Butuh banyak hal, hatta waktu, pengorbanan, dan kesempitan untuk menjadi schöneSchmetterlinger. Namun, setelah dia ada, begitu banyak manfaat dan indah dalam pandangan....
Senin, 08 September 2014
Izinkan aku mengenalnya...
Selasa, 23 Juli 2013
Tiada, Ada, dan kembali Tiada
Seperti kehidupan ini, awalnya tidak ada menjadi ada dan kemudian berakhir dengan ketiadaan. Bedanya, membekas atau tidaknya keberadaan tersebut bersama yang membersamainya. Pun membekas, buruk atau baik kah ia.
Menyelami kehidupan dengan hitungan usia saat ini, tidak serta merta membuat kedewasaan itu muncul begitu saja. Banyak hal yang harus dicerna agar segala kejadian menjadi berarti dengan maknanya masing-masing. Banyak ketakutan yang berubah menjadi keberanian saat ini, banyak ketidaksukaan yang berubah menjadi kegemaran saat ini, banyak sahabat yang dulunya teman biasa saja, banyak hal dalam kehidupan ini yang bisa berubah secara drastis atau bertahap. Ada peran waktu di sana.
Maka, jika menyukai jangan terlalu karena boleh jadi berakhir benci, dan jika membenci jangan terlalu karena boleh jadi menjadi sesuatu yang disukai pada akhirnya.
Hmm,
Kehidupan adalah siklus waktu yang sudah ditetapkan jauh sebelum keberadaan kita. Dan pasti, dulunya dia tak ada dan sekarang menjadi ada, dan pastinya kelak akan tiada. Meski, tak pernah terpikir seperti apa tanpa waktu. Sampai saat ini segala aktivitas merujuk pada waktu, namun kata "selamanya" menjadi satu kata yang seperti tidak mungkin.
Dengan segala dinamika ini, menjadi satu keniscayaan apa yang dimiliki, dicintai, diusahakan, adalah hal yang dulunya tidak ada, menjadi ada, dan akan berakhir dengan ketiadaannya. Yang bisa dibangun adalah kesan seperti apa yang ingin dikenang dalam rangka mengeksiskan keberadaan di ketiadaan berikutnya. Berantung bagaimana niat saat ini, eksis bisa menjadi multitafsir. Ingin bermanfaat, ingin menjadi pahlawan, ingin dikenang, atau hanya sekedar ingin dijadikan simbol -tidak ubahnya sekedar menjadi nama jalan-, atau bentuk keeksisan lainnya.
Bagaimanakah dengan kita?
Tentu segala sesuatunya yang dilewati itu akan dimintai pertanggungjawabannya. Ibarat play record, fungsi waktu saat ini terasa akan menjadi waktu yang tidak sebanding nantinya. Begitu cepat, hanya seperti senda gurau belaka, bangun di pagi hari dan berakhir di siang, begitu kataNya. Jika demikian, sebagai orang yang percaya hari pembalasan apa yang perlu kita lakukan di waktu real dengan kehidupan saat ini?
Tentu kita semua punya passion, keinginan, kegemaran, dan segala hal yang memuaskan diri kita. Namun ada batasan menjadi seorang pemimpin di dunia ini, sehingga apapun yang dilakukan hendaknya mengikuti apa yang dikehendakiNya. Sebab, bersamaNya jauh lebih menyenangkan dan menenangkan. Sehingga maksud dari kata "selamanya"menjadi harapan untuk hal - hal yang dilahirkan untuk mencari perhatianNya, istiqomah.
Dan jika lelah, bukan menjadi dinding batas usaha menuju selamanya. Namun hanya sekedar siklus kehidupan yang menjadi salah satu penghias kehidupan, semua merasakan, semua melewati, dan yang perlu dipastikan itu hanya menjadi bahan penyemangat kita untuk lebih besar semangatnya untuk mencapai tingkatan selamanya. Meskipun selamanya, melewati batas waktu jatah kita dalam kehidupan ini.
Maka bersyukur dan bersabar menjadi penghias pembentuk senyum di wajah dan hati, karena di sanalah bukti cinta. Maka ketiadaan di awal menjadi harapan, keberadaan menjadi kesyukuran dan usaha untuk memberi yang terbaik kepada yang dimiliki, dan ketiadaan berikutnya menjadi bentuk kesabaran dan kesyukuran yang lebih berlimpah karena diberi kesempatan untuk merasakan keberadaannya. Apapun itu, hanya yang berusaha yang dapat menikmatinya.
Rabu, 29 Mei 2013
Teguran Sederhana yang Mendalam
Siang menjelang sore yang mendung hari ini seakan ingin merobohkan bendungan kerinduan yang lama telah ditahan. Hampir 10 bulan saya tidak bertemu dengan beliau. Pertemuan yang sangat singkat, tidak lebih dari 40 menit. Padahal setiap bertemu dengan beliau tiap pekan selama tiga tahun terakhir sebelum 10 bulan yang lalu, kurang lebih selalu menghabiskan waktu yang tidak kurang dari setengah hari.
Nasihat - nasihat yang selalu renyah dan tepat sasaran di hati, ah ciri khas beliau, dan begitupun yang saya rasakan di waktu singkat siang menjelang sore kali ini. Entah bagaimana, kabar itu begitu cepat. Secepat beliau mengetahui keadaanku sekarang. Tak bisa mengelak, hanya bisa tersenyum kaku. Sebegitu perhatiannya beliau kepada saya. Bukan perihal 'GR', tapi ini ciri khas beliau dalam menuntunku selama ini. Ingin rasanya kupeluk dengan takzim, namun tak mungkin di tempat yang belum bisa menjelaskan apa hubungan kami saat ini.
Kata demi kata membentuk kalimat, keluar lancar dari lisan beliau. Wallahi, semuanya benar, semuanya berisi nasihat, pengingatan, dan sesekali peringatan, yang tidak lebih dari 40 menit.
Sembari meresapi apa yang beliau ucapkan, lagi - lagi saya kembali merefleksikan diri. Sungguh, tidak ada satupun hal yang membuatku menyesal ataupun berencana untuk menyesal nantinya. Namun, Allah Sang Pembolak-balik hati, selalu punya hak penuh atas penetapan takdir. Sehingga lembut dalam hati saya mohon kepada Nya semoga tiada penyesalan atas kebaikan yang coba saya emban saat ini.
Saya sadari, ada yang salah dengan sikap saya. Ada yang keliru dengan toleransi yang saya terapkan beberapa bulan terakhir ini. "Bukan kasihan, ketika saya meng-handle kerjaan yang lain sementara dia belum berusaha maksimal mengerjakannya. Seharusnya toleransi dan bantuan hanya patut diberi kepada yang telah berusaha maksimal namun tetap belum bisa menyelesaikan. Bukankah dalam beramal jama'i sekalipun, batas kerja kita jelas? Jadi, biarkan kita profesional mengerjakannya masing - masing di ranah kerja kita, untuk satu tujuan bersama". Kira - kira, seperti itu pesan singkat yang saya dapat.
Saya selalu memohon dan meminta dari hati yang paling dalam di manapun keberadaanku, inginku untuk menjadi agen penyebar kebaikan, terlepas dari sekian banyak kekurangan yang melekat pada diri saya. Saya selalu meminta untuk terus berada di sekeliling orang - orang baik, agar terus mengingatkan saya dalam kebaikan.
Sembari, mengingat saya yang dulu. Ketegasan yang saya miliki, walau kadang dianggap tidak biasa oleh kebanyakan orang, menjadi tuntutan saat ini. Ah, sore indah berpelangi selepas hujan yang menghantarkan kebaikan yang Dia tetapkan. Semoga ada secercah keberkahan itu untukku Di sore ini. Dan terus tidak lupa memanjatkan doa setelah ashar di hari ini, semoga Allah selalu berkenan memasukkan saya dalam daftar panjang orang - orang yang mengharap keridhaanNya, yang tiada letih berusaha meskipun dunia ini selalu menyilaukan dan kadang membuat tersandung, inginku tegar bersamaNya.
Semoga kebaikan dan keistiqomahan pun selalu berada dalam setiap langkah beliau
Rabu, 10 April 2013
Karena dengannya Aku Tenang
Sabtu, 06 April 2013
Surat Tertunda
Sabtu, 30 Maret 2013
Berada di titik 0 Barat Pulau Jawa
Pernahkah berpikir berada di ujung bumi?
Destinasi pertama adalah Museum Purbakala Banten. Cukup belajar sedikit sejarah kekhasan Banten. Hmm, semakin bersyukur menjadi salah satu bagian dari keluarga besar dengan latar belakang sejarah negara yang keren. Dan ini salah satu rumah adat yang ada di salah satu suku di Banten, Baduy.
Agenda berikutnya adalah agenda pamungkas dan refleksi sedikit cita-cita hidup. Maklum, mahasiswa akhir tingkat. Tentunya, setiap kita selalu mengharapkan yang terbaik dan berusaha mendapatkan apa yang kita inginkan. Semoga tercapai semua yang kalian harapkan guys, apapun itu saya yakin tidak hanya berhenti pada kebaikan pribadi. Saya sangat yakin, sebab sebelum bertemu kalian dalam satu forum saya tahu saya diajak bergabung bersama orang hebat yang tidak ingin hidupnya biasa-biasa saja untuk besar dengan cita-cita yang biasa-biasa saja. Terima kasih atas segala penerimaan dan pembelajaran hidup berharga yang disampaikan kepada saya.
