Tampilkan postingan dengan label Sepenggal Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepenggal Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 September 2014

Izinkan aku mengenalnya...

Tidak lama saat sms seorang teman lama membicarakan satu potongan dari sekian puzzle hidup yang belum terungkap. Suatu perbincangan yang tidak ada satupun bisa memastikan seperti apa akhirnya kecuali Dia. Kubiarkan semua mengalir begitu saja. Yang pasti, kuberharap indahnya dakwah terus mengalir dalam setiap sendi kehidupan yang kujalani, dia menjadi ambisi sekaligus obsesi, kuberharap bersemayamnya tidak hanya sekedar mampir. Kuberharap selamanya hingga batas waktuku tiba...

Masalah merupakan satu hal penting yang membuat dinamisnya hidup. Tanpanya, rasa lega, rasa lapang, rasa senang, bahkan rasa bebas tidak ber-arti. Bukankah setelah datangnya rasa sempit kemudian lega dan lapang akan memiliki ciri rasa? Bukankah setelah datang rasa sedih baru terasa manisnya rasa senang? Dan bukankah rasa terkungkung akan membuahkan rasa bebas? Tidak peduli seberapa besar nilai 'rasa' yang dinikmati tiap orang. Warna inilah yang kemudian membentuk dan membekas menjadi pribadi seseorang. Yah, tanpa masalah tentu tak akan ada solusi. Allah telah menegaskan bahwa hanya orang beriman yang terus akan diuji, hingga terbukti sebenarnya imannya :)

Karena suatu masalah itu pula, Allah hadirkan kau mewarnainya. Tidak berhubungan sama sekali dengan tujuan perjalanan pulangku kali ini, karena ini pertama kalinya perjalanan pulangku tanpa perencanaan matang dan dalam waktu singkat. Tidak seperti perjalanan lainnya, perjalanan pulang selalu dengan perencanaan matang dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi tidak dengan alasan pulangku kali ini. Kau hadir seperti menjelma atas jawaban doa selama ini, tapi ragu mengiring... Kaukah itu?

Sebentar kubaca pesan elektronik yang sampai ke ponselku pagi itu, praktis selesai kubaca kemudian habislah daya ponselku, masih dalam perjalanan menemani ibu dan bersiap malam itu perjalanan pulangku. Kuberharap dapat berbicara dengan seseorang dalam tujuan pulangku kali ini, seseorang yang telah 14 tahun mewarnai hidupku. Tapi dalam 2 minggu waktu pulangku, mesti kusimpan segala rasa karena tidak bisa bertemu dengannya. Lebih tidak bisa kupahami apa yang membuatnya berubah dalam setahun setelah 13 tahun kebersamaan kami. Entahlah...

Mesti selalu kuyakini takdirNya selalu terbaik buatku :)

TakdirNya pula yang membuatku bertemu dengannya hanya dalam hitungan hari setelah pertemuan lain yang kuharap terjadi dan malah tidak demikian. Hanya dalam hitungan jam, tidak lebih dari 4 jam dan mesti kuhadapi. Oke, begitu banyak pertemuan di waktu lalu baik yang terencana atau tidak yang kemudian menjadi menyenangkan atau sebaliknya. Dengan jumlah usiaku saat itu, pertemuan dengan siapapun selalu menjadi hal yang menyenangkan. Bukankah Rasulullah sudah menginformasikan bahwa ada berkah di setiap pertemuan (silaturahim)? Jadi, saya terus menghibur hatiku sendiri, "tenanglah, ini hal biasa yang selalu menyenangkan sebelumnya"

Segera kukabari seorang lainnya dan meminta beberapa point yang mesti saya tanyakan dalam pertemuan pertamaku kali ini. Tetap saja ini menjadi tidak biasa. Dan rasa yang ada kali ini tidak terdefinisi,,, "Izinkan aku mengenalnya", pintaku dalam hati...

Akhirnya waktunya datang juga, tetap saja pertemuan teraneh dalam hidupku sejauh ini. Tetap saja, pertemuan pertama tidak bisa serta merta membingkai seseorang menjadi apa yang tergambar di benak sejauh ingatan mengingat, meskipun judging sesaat tidak dapat dielakkan. Semua berlalu hingga beberapa bulan terlewat dan hampir menjadi pertemuan yang terlupakan, pertemuan kali itu ingin dilupakan tepatnya. Tak ada kabar, tak ada hal yang sepertinya menjadi perlu, hingga pesan singkat di ponselku suatu malam sedikit menceritakan kebaikan tentang dirinya yang begitu terasa aneh...

Ternyata, keinginan yang terlintas untuk memulai yang lain dipatahkan dengan pinta lirihku dalam hati waktu itu, dengan ingin mengenalnya. Pinta lirih itu terkabul. Sederet ingin terlintas, tergambar indah walau samar sekilas, terngiang merdu walau tak tampak pelantunnya. Akankah indahnya dakwah tercita itu tergambar dengannya? Ada segurat garis tegas meski perlu tinta yang lebih untuk menebalkannya. 

Selalu ada harapan, namun selalu kupinta padaNya agar mengizinkanku mengenalnya. Kuingin mengenalnya untuk menggambar bersama kebaikan yang Dia janjikan, tak peduli akankah selesai gambar itu dengan kehadiranku,,, hanya berharap gambar itu menjadi sumbangsih peletak pondasi kokoh bangunan peradaban yang Dia janjikan... Kuberharap harmonis sepanjang jalan mengenalnya, karena mengenal tidak pernah bisa berhenti, seperti halnya usahaku hingga detik ini mengenal diriku untuk kupersembahkan terbaik yang bisa kuupayakan atas kemurahanNya

Izinkan aku mengenalnya...

Selasa, 23 Juli 2013

Tiada, Ada, dan kembali Tiada

Di saat semua hal berlalu dalam kehidupan ini, ada yang selalu datang dan sudah tentu ada yang akan pergi. Ibarat badan sungai, akan terus mengalir dan indah jika siklus alirannya berjalan dengan normal. Ya kalau tidak normal, berarti mengalami kekeringan atau meluap dari segi volumenya :)

Seperti kehidupan ini, awalnya tidak ada menjadi ada dan kemudian berakhir dengan ketiadaan. Bedanya, membekas atau tidaknya keberadaan tersebut bersama yang membersamainya. Pun membekas, buruk atau baik kah ia.

Menyelami kehidupan dengan hitungan usia saat ini, tidak serta merta membuat kedewasaan itu muncul begitu saja. Banyak hal yang harus dicerna agar segala kejadian menjadi berarti dengan maknanya masing-masing. Banyak ketakutan yang berubah menjadi keberanian saat ini, banyak ketidaksukaan yang berubah menjadi kegemaran saat ini, banyak sahabat yang dulunya teman biasa saja, banyak hal dalam kehidupan ini yang bisa berubah secara drastis atau bertahap. Ada peran waktu di sana.

Maka, jika menyukai jangan terlalu karena boleh jadi berakhir benci, dan jika membenci jangan terlalu karena boleh jadi menjadi sesuatu yang disukai pada akhirnya.

Hmm,
Kehidupan adalah siklus waktu yang sudah ditetapkan jauh sebelum keberadaan kita. Dan pasti, dulunya dia tak ada dan sekarang menjadi ada, dan pastinya kelak akan tiada. Meski, tak pernah terpikir seperti apa tanpa waktu. Sampai saat ini segala aktivitas merujuk pada waktu, namun kata "selamanya" menjadi satu kata yang seperti tidak mungkin.

Dengan segala dinamika ini, menjadi satu keniscayaan apa yang dimiliki, dicintai, diusahakan, adalah hal yang dulunya tidak ada, menjadi ada, dan akan berakhir dengan ketiadaannya. Yang bisa dibangun adalah kesan seperti apa yang ingin dikenang dalam rangka mengeksiskan keberadaan di ketiadaan berikutnya. Berantung bagaimana niat saat ini, eksis bisa menjadi multitafsir. Ingin bermanfaat, ingin menjadi pahlawan, ingin dikenang, atau hanya sekedar ingin dijadikan simbol -tidak ubahnya sekedar menjadi nama jalan-, atau bentuk keeksisan lainnya.

Bagaimanakah dengan kita?

Tentu segala sesuatunya yang dilewati itu akan dimintai pertanggungjawabannya. Ibarat play record, fungsi waktu saat ini terasa akan menjadi waktu yang tidak sebanding nantinya. Begitu cepat, hanya seperti senda gurau belaka, bangun di pagi hari dan berakhir di siang, begitu kataNya. Jika demikian, sebagai orang yang percaya hari pembalasan apa yang perlu kita lakukan di waktu real dengan kehidupan saat ini?

Tentu kita semua punya passion, keinginan, kegemaran, dan segala hal yang memuaskan diri kita. Namun ada batasan menjadi seorang pemimpin di dunia ini, sehingga apapun yang dilakukan hendaknya mengikuti apa yang dikehendakiNya. Sebab, bersamaNya jauh lebih menyenangkan dan menenangkan. Sehingga maksud dari kata "selamanya"menjadi harapan untuk hal - hal yang dilahirkan untuk mencari perhatianNya, istiqomah.

Dan jika lelah, bukan menjadi dinding batas usaha menuju selamanya. Namun hanya sekedar siklus kehidupan yang menjadi salah satu penghias kehidupan, semua merasakan, semua melewati, dan yang perlu dipastikan itu hanya menjadi bahan penyemangat kita untuk lebih besar semangatnya untuk mencapai tingkatan selamanya. Meskipun selamanya, melewati batas waktu jatah kita dalam kehidupan ini.

Maka bersyukur dan bersabar menjadi penghias pembentuk senyum di wajah dan hati, karena di sanalah bukti cinta. Maka ketiadaan di awal menjadi harapan, keberadaan menjadi kesyukuran dan usaha untuk memberi yang terbaik kepada yang dimiliki, dan ketiadaan berikutnya menjadi bentuk kesabaran dan kesyukuran yang lebih berlimpah karena diberi kesempatan untuk merasakan keberadaannya. Apapun itu, hanya yang berusaha yang dapat menikmatinya.

Rabu, 29 Mei 2013

Teguran Sederhana yang Mendalam

Siang menjelang sore yang mendung hari ini seakan ingin merobohkan bendungan kerinduan yang lama telah ditahan. Hampir 10 bulan saya tidak bertemu dengan beliau. Pertemuan yang sangat singkat, tidak lebih dari 40 menit. Padahal setiap bertemu dengan beliau tiap pekan selama tiga tahun terakhir sebelum 10 bulan yang lalu, kurang lebih selalu menghabiskan waktu yang tidak kurang dari setengah hari.

Nasihat - nasihat yang selalu renyah dan tepat sasaran di hati, ah ciri khas beliau, dan begitupun yang saya rasakan di waktu singkat siang menjelang sore kali ini. Entah bagaimana, kabar itu begitu cepat. Secepat beliau mengetahui keadaanku sekarang. Tak bisa mengelak, hanya bisa tersenyum kaku. Sebegitu perhatiannya beliau kepada saya. Bukan perihal 'GR', tapi ini ciri khas beliau dalam menuntunku selama ini. Ingin rasanya kupeluk dengan takzim, namun tak mungkin di tempat yang belum bisa menjelaskan apa hubungan kami saat ini.

Kata demi kata membentuk kalimat, keluar lancar dari lisan beliau. Wallahi, semuanya benar, semuanya berisi nasihat, pengingatan, dan sesekali peringatan, yang tidak lebih dari 40 menit.

Sembari meresapi apa yang beliau ucapkan, lagi - lagi saya kembali merefleksikan diri. Sungguh, tidak ada satupun hal yang membuatku menyesal ataupun berencana untuk menyesal nantinya. Namun, Allah Sang Pembolak-balik hati, selalu punya hak penuh atas penetapan takdir. Sehingga lembut dalam hati saya mohon kepada Nya semoga tiada penyesalan atas kebaikan yang coba saya emban saat ini.

Saya sadari, ada yang salah dengan sikap saya. Ada yang keliru dengan toleransi yang saya terapkan beberapa bulan terakhir ini. "Bukan kasihan, ketika saya meng-handle kerjaan yang lain sementara dia belum berusaha maksimal mengerjakannya. Seharusnya toleransi dan bantuan hanya patut diberi kepada yang telah berusaha maksimal namun tetap belum bisa menyelesaikan. Bukankah dalam beramal jama'i sekalipun, batas kerja kita jelas? Jadi, biarkan kita profesional mengerjakannya masing - masing di ranah kerja kita, untuk satu tujuan bersama". Kira - kira, seperti itu pesan singkat yang saya dapat.

Saya selalu memohon dan meminta dari hati yang paling dalam di manapun keberadaanku, inginku untuk menjadi agen penyebar kebaikan, terlepas dari sekian banyak kekurangan yang melekat pada diri saya. Saya selalu meminta untuk terus berada di sekeliling orang - orang baik, agar terus mengingatkan saya dalam kebaikan.

Sembari, mengingat saya yang dulu. Ketegasan yang saya miliki, walau kadang dianggap tidak biasa oleh kebanyakan orang, menjadi tuntutan saat ini. Ah, sore indah berpelangi selepas hujan yang menghantarkan kebaikan yang Dia tetapkan. Semoga ada secercah keberkahan itu untukku Di sore ini. Dan terus tidak lupa memanjatkan doa setelah ashar di hari ini, semoga Allah selalu berkenan memasukkan saya dalam daftar panjang orang - orang yang mengharap keridhaanNya, yang tiada letih berusaha meskipun dunia ini selalu menyilaukan dan kadang membuat tersandung, inginku tegar bersamaNya.

Semoga kebaikan dan keistiqomahan pun selalu berada dalam setiap langkah beliau

Rabu, 10 April 2013

Karena dengannya Aku Tenang



Awal tahun sebelum saya memutuskan sekolah mana yang akan saya tuju untuk melanjutkan studi setelah lulus sekolah menengah pertama, saya bertekad untuk melepas kerudung yang telah 2,5 tahun saya pakai. Ya, fix saya tanggalkan, sejak pertama kali saya tiba di pulau Celebes ini setelah terbang jauh dari pulau berbentuk burung di ujung timur. Berkilo meter jarak terpisah membuat saya semakin mantap untuk menanggalkannya. "Tiada teman yang kenal saya di sini”, lirihku menenangkan diri.
Malam itu tanggal 2 Juli 2004, sehari setelah usiaku genap 15 tahun. Angin semilir menyambutku dengan uraian rambut yang hari ini bebas tersibak angin. Beda dari suasana biasanya. Pakaianku pun hanya selengan dengan celana yang melengkapi styleku yang hanya sebetis.
Akhirnya setelah sebulan sibuk ikut ujian beberapa sekolah menengah atas untuk melanjutkan studiku, saya memilih untuk masuk di salah satu sekolah kejuruan yang cukup ternama dengan tingkat kesulitan seleksi masuk yang cukup tinggi dibanding sekolah lain yang saya ikuti ujiannya.
Awal masuk sekolah cukup menyenangkan dengan berbagai teman baru yang saya temui. Sangat berbeda dengan sekolah yang ada di daerah saya, di sekolah ini semua fasilitasnya lengkap. Bahkan ada masjidnya, sehingga semua murid dan guru bisa melaksanakan ibadah shalat tepat waktu dan secara berjamaah. Namun, satu cerita yang entahlah bagaimana perasaanku saat itu. Saat pelajaran agama, saya disangka tidak beragama muslim. Ssrrr, sedesir angin yang membuat sesak melewati dadaku.
Mungkin sebagian orang akan menyangka saya galau, sebagian lainnya tidak peduli, bahkan sebagian lainnya sangat mendukung dengan keputusan saya. Sahabat saya memang sebagian besar adalah non muslim, kalaupun muslim mereka juga tidak faham dengan hijab apalagi menggunakannya, pastinya tidak.

*****
Pertengahan Desember 2001 saya memutuskan menggunakan kerudung. Syok, saya syok abis. Besar dengan lingkungan yang kurang mengajarkan nilai – nilai keislaman, saya sebelumnya mengambil kesimpulan bahwa kerudung hanya sekedar kebudayaan orang Arab yang kebetulan Islam berpusat di sana. Argumen saya bukan karena tanpa alasan, sebab keluarga saya yang sudah berhaji bahkan sepupu saya yang menyelesaikan studi di pesantren tidak menggunakan hijab setelahnya. Bukan, bukan berarti karena keluarga saya tidak sama sekali menginternalisasikan nilai – nilai keislaman. Belajar baca Alquran adalah satu kewajiban dengan prioritas tinggi yang dicanangkan ibuku, meskipun ibuku tidak begitu menjalankan perintah agama dengan benar. Ayahku dikenal dengan ahli ibadah, beliau tidak pernah meninggalkan shalat tepat waktunya bahkan beliau selalu menutup toko di waktu shalat dan tidak meminta orang lain untuk menjaga.
Saya tahu bahwa muslimah wajib berhijab dari pemaparan materi pesantren kilat I se-kabupaten yang diadakan di daerah saya. Ya sekabupaten, karena sedikitnya jumlah kami yang muslim sehingga siswa SMP dan SMA digabung. Bahkan yang saya tangkap, hijab di dalam Islam itu bukan membungkus tapi menutup. Sejak hari itu saya bertekad untuk menjalankan salah satu kewajiban sebagai seorang muslimah tersebut.
Hati – hati saya menyampaikan niat saya itu kepada ibu, di luar dugaan beliau membolehkan. Masih dengan sikap dinginnya, permintaan saya hanya dibalas dengan kalimat, “yang penting kalo udah di pake, ga di lepas – lepas lagi”. Segera saya meluncur ke penjahit yang tempatnya hanya berselang dua rumah dari rumah saya. Hal ini harus saya pastikan, untuk baju dan rok saya selesai dikerjakan maksimal sehari sebelum masuk sekolah setelah liburan lebaran, natal, dan tahun baru. Saya juga ingat dengan baik di minggu pertama sebelum masuk sekolah saya menggunakan celana panjang dan jaket yang sama ketika keluar rumah karena cuma itu satu – satunya yang bisa menutup auratku pada waktu itu.
Ada beberapa teman yang juga tercerahkan dan berniat untuk menggunakan hijab setelah pemaparan ustad di pesantren kilat itu, dan dengan omongan ringan saat pulang bersama kami bersepakat untuk masuk sekolah dengan tampilan baru. Di hari pertama sekolah, semua orang cukup gempar dengan tampilan saya. Namun, saya juga agak sedih karena hampir semua orang yang bersepakat dengan tampilan syar’inya menangguhkannya dengan berbagai alasan. But, so far it’s no problem for me.
“Kamu kok pake itu?”, tanya guru kesenianku yang memang cukup dekat denganku sambil menunjuk ke arah kerudungku. Dengan senyum simpul saya menjawab, “hm, ini hal yang diwajibkan oleh agamaku bu”, seraya berlalu di hadapannya. Walaupun sempat tercetus dari mulut beliau, "lebih cantik kalau tidak pake 'itu'". Ya, saya merasakan diri saya yang baru. Belum pernah saya merasa bebas seperti ini sebelumnya. Dan ternyata setelah zaman orde baru yang tidak membolehkan penggunaan kerudung di sekolah, saya termasuk orang pertama yang menggunakannya di sekolahku dimana muslim merupakan minoritas.

*****
Ingatan di atas terus bergelayut setelah genap 4 bulan saya tidak menggunakannya lagi. Ternyata persepsi saya bahwa dengan melepaskan kerudung, orang tidak sewenang – wenang menjudge kerudung saya buruk berdasarkan keburukan pribadi saya, tidak serta merta membuat saya merasa nyaman dan aman. Saya melihat semua orang yang dekat dengan saya, semua yang memberi perhatian kepada saya, bahkan semua yang menobatkan diri mereka sebagai sahabat saya hanya melihat saya sebatas tampilan dan materi yang saya miliki. Dan parahnya, banyak teman – teman lelaki yang tidak segan secara vulgar mendekati saya, yang tidak pernah saya rasakan ketika saya menggunakan kerudung, dan semua hal tersebut benar – benar memuakkan.
Saya merasa benar – benar telah berbelok ke haluan yang menyimpang dari seharusnya. Saya menangis sejadi – jadinya dengan kebodohan yang telah saya lakukan, saya benar – benar memohon ampun atas pengambilan keputusan terbodoh yang saya pernah ambil.
Di sekolah saya yang baru ini, semua ibadah saya menjadi lebih baik karena lingkungan saya yang mayoritas muslim, kecuali menggunakan hijab. Akhirnya, desember 2004 saya bertekad untuk menggunakannya kembali.  Dengan uang jajan yang sudah saya tabung, saya ke tukang jahit untuk menjahit beberapa rok untuk kebutuhan sekolah dan sehari – hari. Saya tidak meminta izin lagi kepada ibu, bahkan tidak satu pun orang saya beri tahu dengan rencana saya.
Tanggal 28 Desember 2004, tepat hari selasa setelah dua hari bencana tsunami, saya ke sekolah dengan gaya baruku. Semua gempar, hampir seperti pertama kali saya menggunakannya waktu SMP. Saya sengaja menggunakannya tidak di hari senin hanya dengan alasan 'iseng' agar saya tidak menjadi pusat perhatian di lapangan upacara. Serta merta senioritas yang memang terkenal kejam di sekolahku terhenti dengan tampilan baruku, semuanya segan. Saya jadi teringat sebuah kalimat bijak ‘Anda sopan kami pun segan’, benar – benar benar J
Harapku, dengannya Dia ridhai apa yang saya lakukan. Mengikuti syariatnya adalah suatu kebutuhanku, bukan suatu kewajiban yang memberatkan. Sehingga selalu kupinta padaNya untuk menetapkan hatiku hanya padaNya. Mencintai apa yang Dia kehendaki, membenci apa yang Dia larang, dan membenci perbuatan buruk yang pernah saya lakukan. Saya berharap, saya berdoa, saya berusaha, dan saya selalu berharap atas kemurahanNya. Semoga...
Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri – istrimu, anak – anak perempuanmu, dan istri – istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS 33:59)

Sabtu, 06 April 2013

Surat Tertunda


Assalamualakum warahmatullahi wabarakatu
Ba’da tahmid, tasbih, dan shalawat…
Apa kabar al ukh yang sedang di rumah bersama sanak keluarga? Semoga terus masih berada dalam keberkahan perlindunganNya. Masih di kelilingi kenikmatan-kenikmatan yang tiada henti-hentinya dikaruniai Allah SWT pada kita.
Ketika merefresh semua kenangan lalu kita, membuat saya tidak hentinya mengucap syukur kepada Allah SWT atas nikmat ukhuwah yang diberikan kepadaku atas dipertemukannya kita. Saya sangat yakin tiada kesiaan dari peristiwa – peristiwa yang kita jalan selama kita berada di kampus.
Kini, dengan berubahnya pola gerakan dakwah kita di kampus, membuat seakan – akan semuanya bubar tanpa bekas.
Tidak seperti itu al ukh, sungguh cinta itu sudah tumbuh sejak awal kita dipertemukan, sungguh cinta itu tumbuh subur hingga berbunga entah berapa banyak kuncup yang siap bermekaran hingga saat ini, hingga detik ini. Sungguh, walaupun kadang memang cuaca tidak selalu cerah menaunginya.
Ada kalanya amanah itu menyinggapi sebagian dari kita, dan “mengistirahatkan” sebagian yang lain. Tapi apakah itu menjadi satu bentuk excuse terhadap diri kita untuk tidak melakukan apa pun??? Tentu al ukh lebih tahu, bahwa Allah menilai setiap usaha kita, bahkan yang hanya kita niatkan di dalam hati.
Saya rindu,,
Itu perasaan saya saat menulis surat ini. Entahlah, mau disebut melankolis ataupun berlebihan. Tapi, itulah adanya…
Melalui surat ini saya ingin menyampaikan: “Maafkan saya” yang selama ini ketika kita bekerja bareng, menyisakan kenangan buruk di hati al ukh.
Beginilah saya, bukan makhluk sempurna. Ada kalanya memaksa, ada kalanya mengajak, ada kalanya marah, ada kalanya meninggalkan, ada kalanya menjengkelkan, ada kalanya tidak enakan, dan segudang ada kalanya lainnya.
Semoga ini menjadi satu bentuk tadhribat Allah yang bisa saya ambil semua saripati hikmahnya, dan begitu pun dengan kalian.
Saya sebagai makhluk yang lemah ini, ingin sekali bersenyum sapa bersama kalian, ingin sekali menggenggam erat tangan itu, memeluk… Namun, kesibukan kita menjadi satu bentuk penghalang.
Tapi, selalu berada dalam doa dan harapku semoga al ukh bisa istiqomah di jalan ini. Bisa bertahan dengan karakterikstik dakwah: yang berasa tanpa ujung, berat, dan sedikit pengikutnya. Sebab bukan kesengajaan kita dulu dipilih lewat proses yang melelahkan. Bukan tanpa alasan, kita dulu berada dalam barisan dakwah yang banyak dinanti orang namun dicaci di sisi yang lain. Bukan suatu hal yang menyiakan apa yang telah kita lakukan dahulu. Seperti sudah takdirnya kita menjadi orang – orang yang terpilih itu…
Jangan pernah lelah, karena kita hanyalah pengembara di dunia yang fana ini. Rumah kita di syurga menanti kita. Jangan pernah diam, karena itu satu bentuk kedzaliman terhadap keberadaan kita yang seharusnya menjadi da’i, lingkungan kita membutuhkan seruan dakwah kita. Jangan pernah menjadi orang yang biasa – biasa saja, sebab Allah telah mengaruniai kita ilmu lebih dibanding orang yang biasa – biasa saja. Jangan pernah,,,
Hidupkanlah perasaan menyeru itu dan hiduplah bersamanya. Karena betapa tidak bersyukur dan berterima kasihnya kita wahai al ukh, di mana Rasulullah mulia SAW di penghujung usianya di dunia ini hanya terus menerus memikirkan kita, ummati, ummati, ummati. Maka balaslah kebajikan beliau, maka bersyukurlah atas segala kenikmatan-Nya. Karena kita belum merasakan apa yang saudara kita di Palestina, Bosnia, Rohingnya, Afganistan, Poso, Maluku, dan di belahan bumi lain yang dirampas hak bersyukurnya seperti apa yng bisa bebas kita lakukan saat ini. Maka bersyukurlah, bekerjalah, bersungguh – sungguhlah, dan ajaklah…
Jazakillah khairan katsiran, atas segala keberadaan, kehadiran, keutuhan kalian dalam menggenggam tali agama Allah. Semoga bisa segera berkumpul bersama di jannah-Nya, dengan amalan terbaik kita. Tetap berfastabiqul-khairat di mana pun kita saat ini berada.

Sabtu, 30 Maret 2013

Berada di titik 0 Barat Pulau Jawa



Pernahkah berpikir berada di ujung bumi? 
Ya, mana mungkin... 

Dunia yang diciptakan sang Maha Pencipta ini kan bulat. Tapi saat ini, saya berada tepat di titik nol barat Pulau Jawa. Titik di mana bisa dilihat keindahan bumi Banten. Pertama kali dan sangat berkesan.

---


Pagi cerah itu saya berkumpul bersama teman-teman ex-pengurus BEM fakultas :)
Berkumpul yang tidak seperti biasanya (red: rapat), tapi kita berkumpul untuk jalan-jalan. Hmm, perjalanan dengan perencanaan yang cukup matang oleh panitia (yang unpublished)

Jujur, berkali-kali jalan-jalan kepengurusan ini hanya berlalu sekedar menjadi wacana. Bahkan, sejak saya bergabung :D
Namun, kali ini menjadi realistis dengan perencanaan yang matang walaupun tidak semua anggota ikut hadir karena kendala yang memang tidak dapat diprediksi. Semoga dikuatkan dan diberi kesehatan pada teman saya yang sejak sebulan sebelum keberangkatan terus menerus dengan sabar menanyakan keikutsertaan saya, namun tak jua saya respon. Bukan kebiasaan saya, tapi jujur karena keinginan saya yang besar untuk ikut tetapi khawatir di tanggal yang bertepatan dengan itu saya tidak bisa ikut. Di H-2 hari dia berhasil bertemu dengan saya dan saya jawab dengan "ya". Meskipun pada hari H dia malah tidak ikut karena sakit (anyway, thanks a lot ya Fikri Sulthoni)

Sepanjang perjalanan, jauh dari yang diprediksikan. Kami tidak menemui macet, alhamdulillah. Sehingga perjalanan Depok-Banten memakan waktu kurang lebih 2 jam. Hmm, perjalanan yang penuh dengan nyayian (yang entahlah apa istilah untuk satu kegiatan ini di bus sepanjang perjalanan) dan dipenuhi dengan kuis kreatif dari PJ acara (Ganis Sanhaji), you are creative man.

Destinasi pertama adalah Museum Purbakala Banten. Cukup belajar sedikit sejarah kekhasan Banten. Hmm, semakin bersyukur menjadi salah satu bagian dari keluarga besar dengan latar belakang sejarah negara yang keren. Dan ini salah satu rumah adat yang ada di salah satu suku di Banten, Baduy.
Destinasi berikutnya ke Masjid Agung Banten yang tidak jauh dari museum, hanya perlu berjalan kaki. Rencananya di masjid ini kami akan melaksanakan Shalat Dzuhur, namun apa boleh bikin... 
Masjid ini ramai padat, bahkan wudhunya pun bingung mau di mana (ya di tempat wudhu lah, hehe). Maksud saya saking sesaknya merasa tidak nyaman untuk melaksanakan ibadah di masjid ini. Sehingga sebagian besar kami yang cewek enggan dan berkeputusan untuk shalat di destinasi berikutnya.
Sepanjang jalan dari museum hingga masjid diramaikan oleh pedagang, tapi sayangnya tidak tampak khas daerah Banten yang dijual di sini melainkan barang khas Arab.

Ada satu hal yang membuat masjid ini sangat ramai, ya selain kami memang datang di waktu libur. Selain masjid ini yang bersejarah, di masjid ini pula ada beberapa makam para wali yang dianggap sakral oleh masyarakat, sehingga mereka rela berdesakan dan antre untuk memanjatkan doa di nisan. Yah, beginilah realitas masyrakat hari ini, semoga semangat belajar Islam lambat laun akan memotong kebiasaan yang tidak diinginkan oleh agama.

Destinasi berikutnya adalah rumah pak PO jalan-jalan ini, Yasir Arafat. Wah, keren banget kedua orang tuanya. Thanks a lot for them...
Bayangin aja, pas kita sampai di rumahnya yang sederhana namun menyejukkan di tengah teriknya panas. Di tengah keroncongnya lambung dengan kadar asam yang meningkat, meminta haknya untuk mengolah sesuatu yang dimasukkan ke tubuh (hehe lebay). Kami disediakan senampan besar ikan bakar + sambal lezatnya, dilengkapi dengan cumi yang dimasak tomat. Hmm, selalu terbayang dan membuat rindu untuk balik lagi :) Semua makan dengan lahap, tak terkecuali. 

Dan perjalanan ini diakhiri dengan pantai, khas wisata Banten. Tahu kan? Tempat judul cerita ini diambil. Awalnya agak gondok dengan peraturan yang semena-mena di tempat kami yang tidak direncanakan untuk disinggahi ini, alhamdulillah berakhir dengan cukup menyenangkan. Bagaimana tidak? Tidak ada pengumuman terkait tarif dan tidak akad jual-beli, kemudian rombongan kami ditodong dengan "uang parkir" yang harganya luar biasa. Hmm, Indonesiaku sayang Indonesiaku malang, semoga pemimpin masa depannya sadar akan potensi alam dengan pengelolaan profesional dan memuaskan rakyat (amiin).

Kami naik ke atas Menara Willem yang memiliki 16 lantai (lupa tingginya berapa meter ya?) untuk menuju puncaknya. Menara ini merupakan mercusuar penanda titik nol daerah terbarat pulau Jawa. Wuih, anginnya kenceng dan betapa indahnya pemandangannya. Maha Suci Allah yang tidak pernah cacat sedikitpun menciptakan ciptaannya. Oya, hanya perlu Rp3000 / orang untuk bisa menikmati sensasi berada di atas awan ini :)
Setelah didesak untuk turun karena ada beberapa orang yang menunggu, kami turun dan melanjutkan agenda berikutnya. 


Agenda berikutnya adalah agenda pamungkas dan refleksi sedikit cita-cita hidup. Maklum, mahasiswa akhir tingkat. Tentunya, setiap kita selalu mengharapkan yang terbaik dan berusaha mendapatkan apa yang kita inginkan. Semoga tercapai semua yang kalian harapkan guys, apapun itu saya yakin tidak hanya berhenti pada kebaikan pribadi. Saya sangat yakin, sebab sebelum bertemu kalian dalam satu forum saya tahu saya diajak bergabung bersama orang hebat yang tidak ingin hidupnya biasa-biasa saja untuk besar dengan cita-cita yang biasa-biasa saja. Terima kasih atas segala penerimaan dan pembelajaran hidup berharga yang disampaikan kepada saya.
---

Terima kasih kepada Aisyah Bidara & Riza Nur Adinda yang mau menerima menjadi mate-ku di tengah kepengurusan :)
Terima kasih kepada Rivan Tri Yuono, Muhammad Kemal Prasya, dan Ipung L. Purwaka yang gigih mengajak saya ikut gabung di tim hebat ini (anggap saja saya ge-er)
Terima kasih kepada semuanya, Arif Hidayat, Ika Yuliana, Puri Wulandari Rahayu, Qivi Azizah, Amelia Nur Fitriana, Ganis Sanhaji, Rizqi Wahyu Nur Cahyo, Sila Sakti, Haniyah Nadira, Priska Andini Putri, Yasir Arafat, Fikri Sulthoni, Bimo Ary Pujangga Putra, Munazyi, Regy Inneke Ridart, Harnoko Dwi Yogo, Abdul Karim, dan Galih.

Sebagian dari kalian sudah mengenal saya sebelumnya, sebagian lagi belum. Tapi Allah Yang Maha Menakdirkan sehingga kita diberi kesempatan untuk saling mengenal lebih dibanding yang lain. Doa terbaikku selalu untuk kalian, kawan. Semoga kita bisa berjumpa di kesempatan lain dengan kondisi yang jauh lebih 'oke'.

"Kamu sangat berarti, istimewa di hati
s'lamanya rasa ini...
Jika tua nanti kita t'lah hidup masing-masing
ingatlah hari ini..."
(sepenggal lagu project pop)

Depok, 2:01

Rabu, 13 April 2011

Merajut harapan dengan sekarung plastik


Tubuh kuyu kecil miliknya tidak menampakkan keletihan sedikitpun. Hanya sesekali melirik, apa gerangan yang ditunggu orang-orang itu? Enak kah? Sepertinya itu bergejolak menari di benaknya. Untuk makan hari ini pun dia sudah bersyukur mendapat sepiring nasi dengan lauk sayur seadanya.

Dari lampu merah Juanda sampai Gapura Selamat Datang di Kota Depok menjadi kebiasaannya tiap malam. Tak merasa lelah, tak merasa berat, tak merasa menyesal, tak merasa terpaksa atau dipaksa. Hanya satu bentuk kepeduliannya kepada kedua orang tuanya. Masih dengan tubuh kuyu kecil itu, senyumnya tak dapat kulupakan.
Setelah belajar ngaji di Umi, tepat setelah Isya, dia mulai perjalanannya tiap malam. Menelusuri jalan Margonda yang sepertinya tak pernah sepi dengan kendaraan yang hiruk pikuk dengan kebisingannya yang khas.

Malam itu, pukul 21.10, baru saja turun dari angkot 04 yang mengantarku dari Depok Timur ke Jalan Margonda Raya. Martabak Alim yang khas, membuatku selalu rindu untuk mencicipinya sesekali. Dengan setengah mengantuk menunggu pesananku, tubuh kuyu kecil itu mengais-ngais tempat sampah yang ada di depan Martabak Alim.
Tidak menampakkan wajah memelas, hanya melirik penasaran. “Bagaimana rasa makanan itu?”, bisiknya dalam hati sambil terus mengucurkan air yang masih tersisa dalam gelas-gelas plastik itu. Mataku, tak henti tertarik untuk melihatnya. Penasaran, kekuatan apa gerangan yang membuatnya bisa sekuat itu? Kekuatan apa gerangan yang membuat tubuh kecil kuyu itu dapat mengangkat onggokan plastik yang lebih besar dari tubuhnya? Hingga dia hampir berlalu....
Sadar, segera saya dekati dia. Dengan penasaran saya memberi tangan kananku dengan berseru kecil memberi tahu namaku. Dengan cekatan dia menggosok tangan kanannya di sisi celana sebelah kanannya kemudian menyambut hangat tanganku, “Pendi”. Nama yang jarang saya dengar selama berada di Depok (terdengar tidak penting, namun terlintas dalam pikirku)

Pendi tinggal di mana?”, tanyaku memulai pertanyaanku, sontak keletihan seharian ini terhempas entah ke mana. “Di seberang lampu merah juanda, Kak”, jawabnya. “Pendi sekolah gak?”, kembali melempar saya pertanyaan. Dengan pelan dia menggeleng dan menunduk. Shrrr, ada angin halus merembes ke dalam hatiku.

Saya    : “Pendi masih mau sekolah gak?
Pendi  : “Mau Kak
Saya    : “Di mana?”
Pendi  : “Di MasTer
Saya    : “Kenapa pengen sekolah di sana?”
Pendi  : “Soalnya gratis Kak
Saya    : “Trus, kok belum mulai
Pendi  : “Mau nabung dulu Kak, buat beli buku
Saya    : “Sekarang umur Pendi berapa tahun?”
Pendi  : “hampir 11 tahun kak
Saya    : “emang kalo sekarang sekolah, udah kelas berapa?”
Pendi  : “Dua tahun lalu, berhenti Kak. Mau nyusul mama ke Depok, tapi duitnya belum cukup makanya Pendi belum sekolah. Dulunya Pendi tinggal di Bogor, tapi sekarang udah 3 bulan tinggal di Depok
Saya   : ”Di Bogor tinggal sama siapa? Kenapa pindah ke Depok?”
Pendi  : “Di Bogor tinggalnya sama Abah (Kakek), pindah ke Depok ngikut mama dan bapak. Abisnya, di Bogor anak-anaknya nakal-nakal. Pendi pernah dituduh nyolong, padahal gak.”
Saya   : “Terus mama dan bapak ngapain sekarang?”
Pendi  : “Bapak kerja di ‘Bos’, di deket lapak. Ibu jaga dede’ aja di lapak
Saya   : “Pendi beneran pengen sekolah?”
Pendi  : Dengan mengengguk sigap, “Iya Kak
Saya   : “Masih punya rapor dan surat pindah gak?”
Pendi  : Dia kembali mengangguk,,,

Pembicaraan kami terputus, seorang pekerja dari Martabak Alim keluar membawa sekeranjang kaleng susu kemudian ditawarkan ke Pendi. Saya tersenyum. Setelah pekerja itu kembali ke dalam tokonya, saya kembali melempar pertanyaan, “Kenapa percaya sama saya?”. Dia menjawab dengan senyum dan menggeleng, “gak tahu kak
Yaudah, besok bawa rapor dan surat pindahnya ya. Kita ketemuan lagi di sini jam 9 malam besok, ok?”, tanyaku untuk mempertegas dan mengakhiri perbincangan singkat kami. “Iya kak”, jawabnya singkat. “Jangan lupa loh, Kakak tunggu di sini. Kamu harus dateng ya!”, kembali saya mengingatkan. Dengan semangat dia menjawab, “Iya Kak, besok Pendi datang”. “Oke”, seruku bersemangat.

Kembali masuk saya mengambil pesanan Martabak Alim-ku, terlihat sepasang pasangan melambai ke Pendi dan mengajaknya berbincang. Saya melewatinya dengan sesungging senyum dan kembali mengingatkan, “besok ya Pendi...”. Dia menoleh dan menjawab, “iya Kak”.
Sengaja saya tidak menawarkan uang ataupun makanan. Entah kenapa perasaan untuk bertemu kembali esok hari kuat menggelayuti perasaanku. (bersambung)

Di malam yang melegakan, 16.03.11

Ket:
Umi                       : guru ngaji
Abah                     : Kakek
Martabak Alim    : Salah satu toko penjual Martabak yang cukup terkenal di Depok
MasTer                : Masjid Terminal, salah satu sekolah terbuka, gratis, yang didirikan didirikan secara mandiri oleh pendirinya. Muridnya terdiri dari anak jalan, gepeng, pemulung, dan anak-anak kurang mampu (secara ekonomi). Info terakhir, MasTer juga menyabet prestasi dalam bidang kompetisi sains se-Indonesia.