Tampilkan postingan dengan label Sains dan hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains dan hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 April 2011

Menentukan Arah Utara Sebenarnya (Geografis) dengan Bantuan Matahari


Untuk keperluan penentuan arah kiblat, yang biasa ditanyakan adalah: bagaimana menentukan arah utara. Hal ini disebabkan informasi arah kiblat yang biasa diberikan adalah relatif terhadap utara geografis (utara sebenarnya, utara sejati, atau true north), bukan arah utara kompas. Arah utara geografis digunakan sebagai acuan karena arah utara kompas bisa berubah-ubah tiap tahun dan sangat dipengaruhi medan magnet sekitarnya.
Kutub utara magnet bumi juga tidak berhimpit dengan kutub utara rotasi bumi. Kutub utara magnet ini dinamis dan bergeser setiap saat. Karena itu, arah utara kompas tidak selalu menunjuk arah utara geografis. Sementara itu arah utara geografis inilah yang dirujuk pada berbagai peta atau perhitungan arah kiblat.

Cara mudah dan cepat

 

  1. Cara pertama yang cukup mudah dan cepat adalah dengan mengandalkan asumsi bahwa matahari bergerak dari timur ke barat (sebenarnya rotasi bumi menuju arah sebaliknya).
  2. Ambil tongkat atau apa saja yang bisa ditegakkan di atas tanah. Pilih permukaan yang rata dan datar (tidak miring). Usahakan mendirikan tongkat tersebut setegak lurus mungkin. Tongkat dengan ujung kecil atau runcing akan memberikan hasil yang lebih akurat.
  3. Beri tanda pada bayangan ujung tongkat. Misalnya dengan pensil, kapur atau tancapan pin atau paku. Usahakan tandanya sekecil mungkin pada ujung tongkat.
  4. Tunggu sekitar 10-15 menit. Bayangan akan sudah bergerak, namun tidak terlalu jauh. Beri tanda pada bayangan ujung tongkat.
  5. Hubungkan tanda pertama dengan ke dua dengan garis lurus. Itulah arah barat timur. Arah utara selatan dapat dibuat dengan garis yang tegak lurus arah barat timur. Jika anda berdiri di atas garis barat timur dan tanda pertama berada di sebelah kiri anda, maka anda sedang menghadap arah utara geografis.

Cara lebih akurat

 

  1. Tegakkan tongkat lurus di atas tanah yang datar seperti cara mudah di atas. Namun anda harus mulai pengamatan bayangan paling tidak 1 jam sebelum tengah hari.
  2. Tandai bayangan ujung tongkat. Ukur panjang bayangan dengan penggaris atau seutas tali atau potong tongkat lain (kertas) sepanjang panjang bayangan. Atau sebagai alternatif, buatlah tanda lingkaran dengan titik tengah pangkal tongkat dan jari-jari sepanjang panjang bayangan tongkat. (Gunakan tali yang diikatkan pada pangkat tongkat sebagai alat bantu membuat lingkaran)
  3. Setelah lewat tengah hari, amati bayangan. Bayangan akan semakin panjang. Ukurlah bayangan tiap beberapa menit dan berilah tanda ujung bayangan jika bayangan tongkat telah sama dengan panjang bayangan pada saat pengukuran pertama. Atau jika anda menggunakan cara menggambar lingkaran, amati ujung bayangan hingga menyentuh garis keliling lingkaran dan tandailah tempat persentuhan saat itu.
  4. Hubungkan tanda pertama dengan ke dua dengan garis lurus. Sekali lagi, itulah arah barat timur. Arah utara selatan dapat dibuat dengan garis yang tegak lurus arah barat timur. Jika anda berdiri di atas garis barat timur dan tanda pertama berada di sebelah kiri anda, maka anda sedang menghadap arah utara geografis.

Lalat yang Disebut dalam Al Qurán




Hikmah Pertama
Pernahkah kita berfikir sejenak hikmah penciptaan seekor lalat yang dianggap jijik oleh manusia? Cerita lalat bukan suatu hikayat baru, lalat pernah mewarnai kisah sejarah yang tercatat dalam lembaran Al-Quran mulia. Buktinya? Ayo perhatikan kalam Agung ini:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ۬ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابً۬ا وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُ ۥ‌ۖ وَإِن يَسۡلُبۡہُمُ ٱلذُّبَابُ شَيۡـًٔ۬ا لَّا يَسۡتَنقِذُوهُ مِنۡهُ‌ۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلۡمَطۡلُوبُ
Wahai umat manusia, inilah diberikan satu misal perbandingan, maka dengarlah mengenainya dengan bersungguh-sungguh. Sebenarnya mereka yang kamu seru dan sembah, yang lain dari Allah itu, tidak sekali-kali akan dapat mencipta seekor lalat walaupun mereka berhimpun beramai-ramai untuk membuatnya dan jika lalat itu mengambil sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat mengambilnya balik daripadanya. (Kedua-duanya lemah belaka), lemah yang meminta (dari mendapat hajatnya) dan lemah yang diminta (daripada menunaikannya)
(Surah Al-Hajj 22: Ayat 73)
:N
Gambaran yang dilukis dalam ayat Al-Quran ini menunjukkan pengajaran yang berguna untuk difikirkan secara teliti. Ini kerana, Allah SWT telah mendatangkan perbandingan yang ringkas tetapi kesannya cukup besar kepada manusia khususnya kepada golongan kafir. Kesan besar yang dimaksudkan ialah kerana ia melibatkan soal Aqidah. Dakwaan golongan kafir yang mengatakan patung-patung ukiran tangan mereka adalah Tuhan harus disembah telah dijawab oleh Allah SWT dengan sindiran tajam yang menusuk jiwa-jiwa mereka. Allah SWT telah menghina golongan yang menyembah patung dengan suatu penghinaan yang melumpuhkan daya fikir mereka secara logika.
Dalam hal konsep ketuhanan tidaklah dapat menghindar dari konsep penciptaan. Oleh karena itu, Allah SWT telah menyuruh golongan ini menciptakan seekor lalat seandainya mereka mengaku mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang diberikan patung sembahan mereka. Lalu, kehinaan ini terus menerus menusuk ke ulu hati mereka memandangkan patung keras tidak bernyawa itu mana mungkin mampu menciptakan serangga sekecil lalat bahkan tidak memberikan kelebihan apapun kepada mereka yang menyembah.
Tidak cukup dengan itu, Allah SWT mendatangkan lagi suruhan dengan gaya bahasa dan uslub yang cukup berbekas yaitu seandainya patung itu berkuasa maka halaulah lalat yang hinggap dihidung ukiran itu tanpa bantuan siapapun. Ternyata patung itu tidak berkemampuan. Malah tidak langsung memberikan reaksi apapun sebagai tindak balas.
Begitu juga Allah SWT turut menyuruh agar golongan kafir memohon kepada patung mereka menghapuskan segala macam penyakit berbahaya yang dibawa oleh lalat. Tetap saja, tidak mampu!
Uslub Balaghah
Di dalam ayat di atas, Allah SWT menyeru kepada manusia dengan seruan يا أيها الناس bermaksud “Wahai sekalian manusia!” dan itu merupakan seruan berbentuk umum. Menurut pengertian bahasa arab, seruan itu seolah-olah suatu panggilan yang jauh. Apa yang dimaksudkan dengan suatu panggilan jauh? Maksud firman Allah SWT dalam ayat ini adalah suatu seruan kepada semua manusia semenjak dahulu hingga datangnya hari pengakhiran yaitu hari kiamat.
Photo by:Naza
Apakah rahsia Allah SWT menyebut perkataan lalat, bukan gajah atau unta?
Hal tersebut dikarenakan ayat ini seolah-seolah menempeleng orang kafir yang berkata tuhan mereka mampu melakukan segala-galanya. Oleh karenanya diperintahkan untuk menciptakan lalat yang kotor agar mereka berfikir dan terus berfikir. Hatta mencipta benda sekecil lalat juga tidak mampu apalagi hewan sebesar gajah dan unta.
Apakah pula hikmah Allah SWT memilih lalat untuk dijadikan contoh?
Seperti yang sudah diketahui bahwa lalat merupakan serangga yang kecil, lemah dan hina bahkan mampu memberi kemudharatan kepada manusia dengan didatangkan bermacam penyakit yang berbahaya sehingga berakibat menghilangkan nyawa manusia.
Menurut Kitab Jaulah fi Dauhah Al-Adab, di antara penyakit berbahaya yang dibawa oleh lalat ialah jangkitan Tuberculosis (Jarsumah As-sel), Salmonella typhi (At-Taifud), Amebiasis (Ad-Dusnataria) dan Pink Eye (Ar-Ramd).
Selain itu, dapat dibaca penyakit yang dibawa oleh lalat, di blog ini: http://effysaiful.blogspot.com/2009/05/raja-namrud-dan-myiasis.html.

Hikmah Kedua

“Apabila lalat terjatuh ke dalam bekas minuman salah seorang di antara kamu, celuplah dan kemudian buanglah ia kerana pada sebelah sayapnya mengandungi penawar dan di sebelah sayapnya yang lain mempunyai penyakit.” (Hadis riwayat Bukhari, Imam Ahmad, Abu Daud dan Ibn Majah)
Betapa hebat mukjizat karunia Allah SWT kepada kekasihnya Nabi Muhammad SAW yang mengetahui perkara-perkara ghaib. Jika dilihat menurut logikatentunya tidak relevan untuk mencelup lalat yang kotor ke dalam bekas air minuman. Namun kajian sains kini membuktikan kebenaran kata-kata baginda Rasulullah SAW. Menurut Dr Danial Zainal Abidin dari petikan buku Perubatan Islam dan Bukti Sains Moden:
Secara dasarnya, hadis ini memperkenalkan konsep vektor dalam penyebaran penyakit. Vektor ialah hewan dan serangga tertentu, contohnya lalat yang membawa kuman-kuman keapda makhluk lain, contohnya manusia. Dalam konteks lalat, konsep vektor ini hanya baru difahami pada abad kesembilan belas sedangkan Nabi Muhammmad menyebut mengenai hal tersebut pada abad ketujuh.

Hikmah Ketiga
Saya tertarik bila membaca sebuah blog artikel yang mengatakan bahwa di negara-negara Eropa, serangga-serangga kecil misalnya seperti lalat jarang ditemui. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara timur tengah dan beriklim tropis. Seperti yang saya sebutkan di atas, apabila iklim bertukar ke musim panas maka kehadiran lalat yang beribu-ribu itu akan memenuhi ruang udara negara Mesir. Umumnya masyarakat mengetahui lalat ialah sejenis serangga yang hidup di sekitar daerah yang kotor dan menjijikkan.
Sehingga, saya melihat ini merupakan hikmah mengapa Allah SWT mendatangkan serangga lalat kepada manusia. Bukankah Islam mengajar bahwa menjaga kebersihan itu adalah suatu perkara yang dituntut oleh umatnya? Nah, lihat dan fikirlah hikmahnya.
Tidak mungkin lalat mau hidup ditempat yang bersih dan tiada pencemaran yang menjijikkan bukan?
SubhanALLAH!
 Sumber Text: Rahsia Di Sebalik Kejadian Lalat | Faridrashidi.com