Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

Rasa C.I.N.T.A

Duhai gadis, maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah ?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu..?
Maka dengarlah…!


Gadis, Saat ku jatuh cinta..
Tak akan ku berucap..
Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..


Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan.
Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..


Aku tahu, cinta adalah fitrah..sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan.
Karena rasa itu adalah cahaya.
Aku tahu, hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita..
Namun.. Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dgn anggun.
Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan begitu banyak warna.
Cinta terkadang membuatmu bahagia, namun tak jarang membuatmu menderita.
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula,
Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir.
Cinta adalah perangkap rasa..
Sekali kau salah berlaku, maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita.

Kasihku … , Agar kau dapat keluar dari belenggu itu.
Dan mampu melaluinya dgn anggun..
Maka mencintailah dalam hening.
Dalam diam..
Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari.
Namun juga, jangan kau sikapi dgn berlebihan.
Jangan kau umbar rasamu.
Jangan kau tumpahkan segala sukamu..


Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..
Kita percaya takdir bukan?
Kita tahu dengan sangat jelas...
Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya?
Jadi, apa yang kau risaukan?
Biarkan Allah yg mengaturnya,
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..


Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta, belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam,
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?

Kasihku… , kita tak tahu dan tak akan pernah tahu..
Hingga saatnya tiba..
Maka, ku ingatkan padamu, tidakkah kau malu jika semua rasa telah kau umbar...
Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya?
Kasihku…, Karena cinta kita begitu agung untuk di umbar..
Begitu mulia untuk di tampakkan..
Begitu sakral untuk di tumpahkan..


Dan sadarilah gadis, fitrah kita wanita adalah pemalu,
Dan kau indah karena sifat malumu..
Lalu, masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan?
Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap..
Duhai gadis, jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..
Dalam jeruji kesetiaan..
Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh..
Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..


Maka cintailah dalam hening.
Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu,
Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..
Agar keanggunanmu tetap terbias..


Maka, ku beritahukan padamu,
Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan.
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu..
Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan..


Gadis... yg kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya..
Maka, peganglah kendali hatimu,
Lalu..Arahkan pd Nya..
Dan cintailah dalam diam..
Dalam hening..
Itu jauh lebih indah..

Jauh lebih suci…wallohu a'lam 

Izzah Islam

Sebuah catatan di facebook
19 Desember 2010

Rabu, 06 Agustus 2014

"Karena cinta-Nya kepada kita, maka..."

Cinta akhirnya yang membuat kita bertahan.

Kalau bukan karena cinta kita kepada Allah, mungkin kita akan lebih memilih pergi dan berlalu.

Lebih indahnya lagi, kita bisa mencintai Allah, karena bersumber kekuatan dari cinta Allah kepada kita. Dengan cinta-Nya kita dihidupkan. Dengan cinta-Nya pula kita kan kembali kepada-Nya.

Karena cinta-Nya kepada kita, maka kita bisa memiliki rasa cinta kepada-Nya, kepada Islam, kepada dakwah, kepada ummat, kepada sesama.

Karena cinta-Nya kepada kita, maka kita memiliki kekuatan untuk bertahan menghadapi segala macam kondisi.

Karena cinta-Nya kepada kita, maka kita bisa mengelola prasangka, mengarahkannya kepada kebaikan.

Karena cinta-Nya kepada kita, maka kita bisa sepenuhnya menitipkan pengharapan kepada-Nya.

Karena cinta-Nya kepada kita, maka kita bisa berbuat kebaikan, melakukan perbaikan, mencintai kebaikan, merindui para pelaku kebaikan.

Karena cinta-Nya kepada kita, maka kita bisa mendulang hikmah, yang selalu intip-intip di balik setiap peristiwa.

Karena cinta-Nya kepada kita, maka kita bisa berlapang dada menerima ketentuan-Nya. Lapang hati jalani ketetapan-Nya.

Karena cinta-Nya kepada kita, maka kita bisa bersemangat dalam ikhtiar meraih ridha dan ampunan-Nya.

Karena cinta-Nya kepada kita, maka kita bisa tumbuh hingga saat ini. Berkembang di berbagai sisi.

Karena cinta-Nya kepada kita, maka kita bisa membenci kemunkaran, memerangi kezhaliman, mendurhakai hawa nafsu.

Cinta-Nya kepada kita, mendahului apapun. Melebihi apapun.

Karena cinta-Nya kepada kita, maka... :)


Rabu, 16 Juli 2014

Kegalauan yang Dirindukan

Dewasa ini kata ‘galau’ sering digunakan untuk menggambarkan rasa yang tidak terdefinisi di dalam hati. Sebagian besar istilah tersebut digunakan para pemuda yang sedang kedatangan tanda-tanda menuju masa dewasa. Sejatinya rasa, selalu ada bersemayam di dalam hati setiap manusia. Tidak mengenal berapa usia, apa status sosialnya, berjenis kelamin apa, atau standar tertentu, semua bisa merasakan senang, sedih, marah, kecewa, dan sederet rasa lainnya. Kadang, bercampurnya rasa itu menjadi satu rasa tak terdefinisi yang banyak diwakilkan dengan kata galau.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, galau diartikan: sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). Hal tersebut jika dihubungkan dengan rasa memperlihatkan bahwa adanya pikiran yang tidak tenang (atau kacau). Adanya keseimbangan dalam kehidupan kita, juga sedikit menjelaskan bahwa  rasa galau hadir dari kacaunya pikiran dan kebalikannya adalah tenangnya pikiran. Ketenangan pikiran, pernahkah Anda merasakan? Mungkin iya, tapi saya tidak tahu sebanyak apa…

Ketenangan merupakan fitrah kita sebagai manusia. Saya yakin, tidak satupun orang yang pernah merasakan kacaunya kehidupan tidak merindukan ketenangan. Jiwa yang tenang, nafsul mutmainnah, Allah gambarkan sebagai jiwa yang akan dipanggil untuk masuk ke dalam surgaNya kelak. Namun, apakah panggilan ‘jiwa yang tenang’ hanya akan ditemukan kelak?

Sejatinya ketenangan yang menjadi fitrah akan terus berada pada titik tuju setiap insan. Tidak banyak yang saya bisa nasihatkan kepada diri sendiri saat ini, karena kurangnya pengalaman dan mungkin rasa galau yang pernah melanda tidak sehebat rasa yang dititipkan Sang Pencipta Rasa kepada beberapa orang lainnya. Karena ketenangan tidak melulu bicara tentang tempat sunyi sepi tanpa suara. Banyak orang yang bahkan merasakan galau ketika dia sudah berada di titik puncak gunung, di titik puncak pencapaiannya, bahkan ketika di titik puncak kehidupan bahagia yang didamba selama ini. Namun tetap saja ada ketenangan di ketidak-tenangannya lingkungan, lihatlah… Lihatlah para saudaraku terkasih di Palestina, di Suriah, di Rohingya, di Mesir, di Kashmir, dan di beberapa belahan bumi lainnya yang ketika saya lihat di layar kaca, saya lihat di lembar kertas, saya dengar dari negeri mereka, yang menggambarkan kekacauan kondisi mereka, ternyata mereka menemukan ketengan di sana. Ketenangan atas janji bahwa mereka tidak lama lagi akan bertemu dengan Sang Pemberi jiwa yang tenang.

Jika seperti ini, saya pribadi merasa mesti merasakan galau itu saat ini. Di ketenangannya keadaan, dinamika kehidupan yang nyaris berada pada garis lurus, tercukupinya segala sesuatunya namun tidak meningkatnya produktifitas ibadah dan segala bentuk aktualisasi diri sebagai seorang hamba. Saya rasa inilah waktunya saya mesti galau. Kenapa masih bisa tenang? Mestinya ketenangan itu tidak pada mata yang lapang dan perut yang kenyang, dipenuhi kosongnya jiwa. Ketenangan itu mestinya berada pada kedalaman hati yang hanya pemilik hakikinya-lah yang dapat menyentuh untuk memutar tuas dan mengarahkannya pada ketenangan yang hakiki.

Bilakah ketenangan jiwa itu hadir, kuharap siap menerimanya hingga pantaslah saya bersanding dengannya. Bilakah ketenangan jiwa itu menyapa, kuharap siap menjamunya dengan segala macam kudapannya. Bilakah ketenangan jiwa itu hendak pergi, kuharap siap memegang rantainya agar siap kuikat kuat dengan hatiku. Bilakah ketenangan jiwa itu berpaling, kuharap Dia masih menyisakan sedikit rasa iba agar bisa kembali memberiku sedikit rasanya. Bilakah ketenangan jiwa itu bersamaku, kuharap kusiap bersamaNya di tempat yang Dia janjikan dengan segenap ridhaNya. Bilakah…

dari kegalauan yang kurindukan menuju ketenangan jiwa yang hakiki,
Depok, 17 Juli 2014
12.02 AM

Senin, 30 Juni 2014

satu juli

Laiknya pada umumnya orang memperingati hari di mana dia dilahirkan, tentunya tidak luput dari saya yang juga melewati proses kelahiran untuk melewati usia dalam bilangan angka. Sebelum-sebelumnya peringatan hari kelahiran atau populer disebut sebagai "ulang tahun" dalam keluarga tidak termasuk hari spesial. Hanya ada 2 momen spesial: idul adha dan idul fitri :D

Begitulah, karena ini tradisi sehingga tidak menjadi suatu hal yang spesial pun pada saya. Sampai suatu ketika di satu juli dua ribu lima saya mengangkat gagang telpon yang sebelumnya berbunyi, di seberang sana terdengar suara yang inti pesannya mendoakan kebaikan atas hari lahir yang bertepatan dengan waktu itu, saya ditelpon ibu. Ini menjadi spesial karena sepanjang saya bernafas, tidak sekalipun ada ucapan itu. Malah ucapan itu disampaikan ketika saya jauh darinya. Tahukah? Setelah saya mengetahui dalam Islam posisi tingginya seorang Ibu dalam kemuliaan. Saya mencoba berbakti sejak januari, memperbaiki hubungan yang sangat renggang, menurunkan egoku yang selalu meninggi, dan mencoba berusaha menjadi laiknya seorang anak yang fitrahnya dekat kepada sang Ibu. Ada haru saya duga dalam perubahan sikapku, sehingga rasa sayang yang selama ini dipendamnya akhirnya tidak bisa dia sembunyikan lagi. Ah, begitulah seorang ibu di mataku. Selalu tegar, meskipun rapuh sekali dia sejak bapak tiada.

Lebih besar dari sekedar rasa senang akan diingatnya waktu lahirku oleh ibuku sayang, saya menyadari bahwa waktu yang terus bergulir hanya akan membuatku semakin dekat pada batas keberadaanku di dunia ini. Saya tahu bahwa semua kita punya batas untuk menikmati kehidupan dunia ini untuk berikutnya menjadi pintu menuju kehidupan berikutnya. Jika pernah ditakdirkan untuk lahir di dunia ini, tentunya akan ditakdirkan pula untuk berakhir di dunia ini dengan kematian. Oleh karena itu, satu juli selalu berarti untukku. Mengartikan bahwa batas berbuat dan melakukan sesuatu yang ingin dilakukan sudah tidak akan sesenggang sebelumnya.

Banyak capaian hidup yang telah dicapai dengan evaluasi hasilnya masing-masing, tentunya masih lebih banyak capaian yang belum tercapai sehingga menjadi suatu harapan untuk dapat mencapainya di waktu-waktu sisa yang entah masih berapa lama lagi. Rasa senang dan sedih pastinya selalu meliputi dinamika kehidupan kita, namun rasa syukur atas segala rasa sering luput diekspresikan kepadaNya Sang Pemilik Hidup.

Satu juli kali ini masih dalam kesendirian dalam 10 tahun terakhir ini. Satu juli kali ini, Allah takdirkan berada di dalam bulan mulia, Ramadhan. Satu juli kali ini saya lewati untuk menunggu waktu sidang kelulusanku pada jenjang strata satu. Satu juli kali ini kubuka dengan tilawahku dalam target-target ramadhanku. Satu juli kali ini kuberada dalam suatu proses pendewasaan yang bisa kurasakan berbeda dari yang waktu-waktu sebelumnya.

Usia yang ke-25 dalam satu juli ku kali ini, membuatku banyak merenung. Betapa beruntungnya saya lahir dalam keluargaku dan menjadi seorang yang memiliki identitasku seperti ini. Tidak banyak hal yang bisa dibanggakan dengan keberadaanku selama 25 tahun ini, namun setidaknya saya mengetahui langkah apa yang saya ambil dan bagaimana melanjutkan sisanya. Meskipun untuk meraih apa yang ada saat ini tentunya tidak hanya dengan cara yang baik, sering bahkan saya terjebak dengan cara-cara hidup buruk yang penuh dengan kelalaian.
Kulihat tayangan di media elektronik beberapa waktu terakhir ini, saya lihat bagaimana pesta demokrasi di Indonesia marak dengan segala pernak-perniknya. Saya lihat bagaimana para balita dan anak-anak di suatu stasiun TV melafalkan ayat suci dengan lantang dan berani dengan keluguannya masing-masing. Saya lihat bagaimana kabar saudara-saudara saya di Malaysia, di Mesir, di Amerika, di Suriah, di Palestina, di Thailand, di Afrika Tengah, di Wamena, dan tentunya di sekitar Jabodetabek tempatku saat ini. Banyak kekacauan, banyak saling tuding, meskipun kita tidak boleh lupa bahwa masih banyak keindahan di bumi Allah ini dan sayangnya ini yang banyak membuat orang terlena,,,

Haha, merasa ngalor ngidul ngetiknya...

Kupinta di saat sebagian besar orang terlelap dengan selimutnya di malam ini, semoga Allah segera memperlihatkan kuasaNya pada orang-orang sombong nan angkuh. Semoga Allah selalu meneguhkan saudara-saudaraku yang terzalimi dan tetap tegar memegang Islam sebagai prinsip dan gaya hidupnya. Semoga Allah segera memberi kesadaran dan jalan hidayah kepada saudara-saudaraku yang terlena karena nikmat dunia fana yang meliputinya saat ini. Semoga Allah amanahkan pemimpin yang adil dan cinta rakyat serta bekerja dengan optimal atas segala potensi diri yang Dia anugerahkan pada bumi Indonesia tercinta ini. Semoga saya bisa menjadi salah satu bagian dari kebaikan yang banyak tersedia, semoga ini dapat membuat Allah berkenan untuk menatapku dan membiarkanku menyibak tabir di pertemuan yang Dia janjikan kelak. Semoga kesempatan satu juli kali ini membuatku lebih terpacu untuk membuat semua langkah saya ambil betul dengan kulitas terbaik agar laik menjadi hambaNya.

Di keheningan malam satu juli ini, banyak harapan yang sulit saya ketik, yang sulit saya gambarkan dalam kata, hanya dapat menyempurnakannya dengan sebanyak-banyaknya hamdalah dan istighfar. Semoga Dia berkenan...

Depok, 1 Juli 2014
1.34

Jumat, 27 Juni 2014

Dia

Rasa rindu entah kenapa mendera begitu dalam. 14 tahun sudah berlalu, sebulan lagi. Suara khasnya yang memanggilku, wajahnya yang penuh dengan senyuman, pelukan sayangnya, kecupan di pipi dan kening yang menjadi ritual pagi hari, begitu dekat terasa. Seakan dia berada di hadapanku ketika kututup mataku sejenak. Seakan melihat ke arahku, tersenyum simpul. Selalu menjadi melankolis ketika mengingatnya...

Kuingat saat 50.000 uang kuambil dari lemari ibuku tanpa sepengatahuannya membuatku dimarahi sepanjang hari hingga dipukul. Tangisku tidak cukup membuatnya iba, sepanjang hari hingga tak pernah lagi berani ku mengambil sesuatu tanpa meminta ijin sebelumnya. Berbeda dengan ibuku, dia hanya terdiam melihatku di malam itu. Mataku yang bengkak hanya dapat tertunduk malu, "pasti ini adalah hal yang paling memalukan", batinku. Dia tidak memarahiku apalagi memukulku. Kuingat, sangat jelas dia hanya menceritakan sebuah kisah di zaman Nabi Muhammad tentang seorang sahabat yang diamanahkan untuk menjaga domba yang banyak. Saking banyaknya sampai pemiliknya pun pasti tidak tahu persis ada berapa banyak, ketika ada seorang yang berniat membelinya dia enggan menjual. Meskipun si calon pembeli mengatakan, "pasti tuanmu tidak tau, juallah satu untukku dan kau akan mendapat keuntungan". Namun si penggembala domba hanya menggeleng dan menjawab, "tuanku mungkin tidak tahu, tapi Tuhanku pasti tahu". Kisah ini di malam itu tidak membuatku terluka, namun tangisku serasa lebih kencang akibat sakit yang kutahan di siangnya. Dialah bapak, selalu begitu. Tidak lama aku bersamanya, namun dia selalu membuat bekas di setiap catatan hidupku.

Kuingat ketika siang itu aku merengek meminta dibelikan sebuah baju. Tidak seperti biasanya, keinginanku kali ini ditolaknya. Aku hanya diam, tapi sesampainya di rumah aku enggan berbicara. Dia tahu, dia tahu kalau aku ngambek. Besoknya aku pergi kembali ke toko baju tersebut meskipun dia sebenarnya tidak sepenuh hati membelikanku karena tidak berkenan dengan model bajunya. Dialah bapak, yang selalu membuatku serasa seorang putri yang tidak boleh ditantang keinginannya.

Kuingat beberapa waktu kami ditinggal ibu yang sibuk dengan beberapa acara keluarga di kampung halamannya. Kami di rumah hanya bertiga, aku, adik, dan dia. Aku jadi banyak belajar masak, semua masakannya jauh lebih enak dari makanan sehari-hari yang selama ini disediakan ibu. Dia mengenalkanku segala jenis ikan, meskipun sampai sekarang aku tidak bisa menghafal nama-nama ikan tersebut, tapi aku tahu persis jenis ikan mana yang enak dijadikan untuk dimasak dengan caranya masing-masing. Dia juga mengajarkanku bagaimana membuat es lilin yang enak. Dialah bapak, selalu saja membuatku takjub.

Kuingat saat kelas 1 SD berlalu dan aku belum juga bisa membaca. Sepulang dari diterimanya rapor siang itu, ibu mengeluh kepadanya tentang apa yang disampaikan wali kelasku. Dia hanya diam. Malam itu dia memintaku untuk belajar bersamanya, namun tidak seperti biasanya... Aku harus menahan kantuk bahkan sampai hilang rasa kantukku karena aku tidak diperbolehkan tidur sampai aku bisa menyambungkan ejaan yang sudah kukuasai. Akhirnya berakhir dengan keluarnya air mataku. Ajaib, besok paginya aku sudah bisa membaca dan sejak saat itu membaca adalah salah satu hal yang kusenangi selain memasak. Dialah bapak, keras di tempat yang tidak pernah kuduga. Keras untuk masalah pelajaran, namun sangat lembut hatinya.

Kuingat setiap siang hari datang sepulang sekolah kala itu, aku selalu ingin ikut bersamanya ke Bank Exim. Aku selalu suka dengan pegawai bank nya yang ramah, aku selalu senang ketika melihat meja tinggi yang mengahalangi penglihatanku bisa kuraih dengan sedikit raihan tangannya yang mengangkatku untuk melihat pegawai menghitung uang yang selalu sudah rapi. Kadang aku sendiri yang disuruh pergi dengan membawa berjuta-juta uang dengan kantong kresek hitam. Malam hari sebelum ke bank dia akan merapikan semua uang itu dari pecahan Rp100 hingga Rp50.000, tidak akan kau temukan sekecilpun lipatan dari uang yang dirapihkannya. Lirihnya, agar pegawai bank mudah menghitung uangnya. Ah, dia bahkan selalu memperhatikan kemudahan pekerjaan orang lain. Sejak itu, aku lihai dalam merapikan uang, membuat catatan pembukuan, dan senang dengan hal yang berhubungan dengan uang. Di masa-masa kemudian aku sering diamanahi sebagai bendahara dan ketua koperasi. Dialah bapak, darinya kupelajari semangat bekerja dan bagaimana memaknai uang.

Kuingat setiap pulang ke kampung, semua orang akan berkumpul di rumah nenek, hampir semua ibu-ibu dan anak-anak. Dia akan membagi-bagikan uang, semua orang menjadi senang. Bahkan dia selalu mendahulukan untuk berkunjung ke orang tua ibuku dibanding ke orang tuanya sendiri. Dia selalu membawa beberapa bahan pokok dari toko kami di Wamena, padahal di kampung ibuku juga banyak. Ah, selau tidak bisa kupahami saat itu, mengapa dia begitu baik pada semua orang? Semua orang menyayanginya. Dialah bapak, yang mengajarkanku tanpa kata bagaimana rasanya nikmat berbagi.

Kuingat setiap adzan berkumandang, tak satupun shalat lalai darinya. Dia bahkan menutup kiosnya kala pelanggan ramai tak jadi soal, dia bersegera menghadap panggilan Tuhannya. Bahkan di saat kolesterol membuat kakinya tak sanggup bergerak, dia meminta dibawakan segayung air dan baskom untuk berwudhu. Ah bukan segayung, tapi dua gayung. Segayung lagi dipakainya untuk sikat gigi. Dialah bapak, sepeninggalnya baru kuikuti rajin shalat dan sikat giginya. Walaupun ku tahu, belum bisa menyamai semangatnya. Dialah bapak, yang tidak pernah memaksa dan hanya mengajak, tapi kutahu itu pasti dari dalam hatinya.

Kuingat ketika aktivitas mengaji sore sudah menjadi membosankan, dia menawarkan mengajarkan aku dan adikku untuk mengaji setelah shalat maghrib bersama kami. Kuingat, aku dan adikku akan berlomba untuk lebih dulu agar bisa menonton setelah itu. Sekali aku melewati satu lembar untuk mempercepat waktuku mengaji, tak kusangka dia hafal dan tahu kalau aku melewati satu lembar. Dengan rendah hatinya dia menugurku dan menyangka aku kelebihan selembar dalam membuka halaman berikutnya. Dialah bapak, yang selalu membuatku bangga.

Kuingat dibersamanya kami menonton acara televisi yang dia favoritkan, yaitu berita, aku tidak akan berhenti bertanya tentang kosa kata yang baru kudengar sepanjang hidupku. Dia bisa menjelaskan dengan mudah kepadaku. Kuingat di malam tahun baru kala itu selalu dibicarakan tentang alien, dikebingunganku aku mengajaknya untuk berdiskusi. Kebiasaan kami pada malam tahun baru sama saja dengan malam-malam yang lain, paling spesial dia akan mengijinkan kami untuk menyewa kaset dan menonton film bersama. Di malam yang bising dengan petasan itu, aku duduk bersamanya di dalam kamar dan mempertanyakan perihal alien. Dia hanya menjawab, "bapak tidak tahu, tapi di dalam Alquran disebutkan ada makhluk lain selain manusia dan jin dan semuanya hanya menyembah Allah, berbeda dengan manusia dan jin", dengan ketidakmengertianku yang banyak pada saat itu minimal aku mendapatkan jawabanku. Dialah bapak, dia tahu segalanya menurutku.

Kuingat ketika pagi datang, ini adalah saat-saat yang sangat kunantikan.Walaupun mataku sudah tidak bisa terpejam, akan kusengaja menutupnya hingga dia datang membangunkanku dengan lembut, hingga dia menyibak bantal atau selimut yang sengaja kupakai untuk menutup wajahku. Kutunggu hingga dia menarikku dengan mesra dan berkata air mandinya nanti keburu dingin. Aku dan adikku akan berebut selimut lagi setelah dari kamar mandi dan akan beranjak setelah wangi sarapan yang disediakannya telah menggoda penciuman kami. Dialah bapak, selalu membuatku bisa manja dengannya.

Kuingat di suatu malam ketika kami sekeluarga selepas bersilaturahim ke rumah tante, aku dan adikku berakhir dengan pertengkaran mic yang hanya dua sementara kami sudah bertiga pada saat itu dan semuanya ingin karaokean, hingga akhirnya kami dipaksa tidur oleh ibu. Belum bisa terpejam mataku, sayup-sayup kudengar seorang perempuan meminta tolong. Ternyata warna merah dengan efek panasnya telah besar membumbung tepat di sebelah rumah kami, kebakaran. Belum kulihat sosoknya, namun kepanikanku meninggi. Hingga aku, adik lelaki, adik bayi, dan ibu juga pengasuhku waktu itu sudah selamat belum kulihat dia. Ibu memperhatikan kami, dan seperti terlihat janggal, ada adik perempuanku yang belum ada. Ibu memaksa masuk ke dalam besarnya merah itu, polisi tidak sanggup menghalanginya hingga akhirnya berhasil membawa keluar adik perempuanku. Tangisnya pecah, karena baru terbangun setelah keluar dari rumah itu dan kaget melihat bentuknya yang sudah berbeda. Masih belum kulihat dia,,, ternyata dia masih mengusahakan ibu tetanggaku yang terjebak dalam rumah mereka. Ibu menyalahkan dia yang lebih mendahulukan orang lain dibanding adik perempuanku, tapi kutahu bukan begitu maksudnya. Tetanggaku hanya berdua bersama ibunya, yang lain sedang mengadakan perjalanan dan tetanggaku itu keduanya perempua. Aku tahu dia yakin ibu bisa membawa kami semua di tempat yang aman. Dialah bapak, yang selalu mengajarkanku akan peentingnya hidup bukan hanya hidup sendir namun juga hidup orang lain.

Kuingat suatu malam ketika keberadaanku jauh darinya, ramai orang dengan suara tidak jelas namun berisik di ruang luar. Aku hendak berdiri namun sepupuku menyuruhku kembali tidur. Tidak ada rasa yang aneh, namun ini tidak biasa terjadi kukira ada tamu yang tidak kukenal datang menginap sehingga selarut itu belum tidur. Kurebahkan kembali badanku, namun seketika dering telepon tepat di atasku membuatku kembali berdiri, dengan cekatan telpon itu sudah berada di genggaman tanganku. Baru kusapa dengan "halo", tiba-tiba suara seorang perempuan dengan terisak menyuruhku untuk bersabar, "bapakmu meninggal". Hatiku tiba-tiba hampa, tiada linangan air dari mataku, hanya nelangsa terasa. Dengan cepat sepupuku meraih gagang telpon, berbicara dengan tanteku yang ada di ujung telpon yang lain, menutupnya dan segera memeluk tubuh kecilku. Sepekan lagi EBTANAS, aku bergegas pagi itu ke rumah temanku untuk berkenan memintakan ijin atas ketidakhadiranku. Masih tak ada tangis, hingga temanku bingung. Aku tahu aku sedih, tapi dia selalu mengajariku untuk menjadi perempuan kuat yang tegar. Aku sadar itulah waktu di mana tak akan kudapati dia dengan segenap ingatanku tentangnya. Dialah bapak, bapak yang selalu kuharapkan seperti dialah mestinya seorang lelaki.

Kuingat, kuingat, kuingat, sekelebat kisah romantis, segunung kisah sulit kami, sedalam kebahagiaan yang diusahakannya. Tapi dia selalu berhasil menyentuh di hatiku, dia selalu berhasi membuatku bangga akan adanya, dia selalu menjadi alasanku untuk terus berjuang. Dia mengenalkanku pada Tuhanku bahkan setelah lama di ketiadaannya. Alhamdulillah aku tahu maksudnya, aku tahu apa yang diinginkannya. Sesesak dada rasaku saat ini, sehangat air yang keluar tiap bulir dari mataku, teriring doa semoga Allah menjaganya di alam barzakh, melapangkan kuburnya, dan memberikan kebaikan atasnya. Dialah bapak, kubangga atasnya. Dialah bapak, yang selalu kuharap dapat bertemu dan tinggal bersamanya kelak di surgaNya.

Deminya akan terus kuusahakan menjadi seorang anak yang solihah, agar doa-doaku bisa menjadi tabungan amal untuknya kelak di hari pembalasan. Deminya akan selalu kuusahakan menasihati ibu dan membersamainya, karena kutahu betapa dalam cintanya pada ibu walaupun tidak bisa ibu dibandingkan dengan kualitas bapak. Deminya akan selalu kuusahkan menjadi teladan untuk adik-adikku, tak peduli seberapa perih, tak peduli seberapa banyak egoku yang mesti kuturunkan bahkan kucabut, karena kutahu betapa beruntungnya waktuku dulu lebih banyak bersamanya dibanding adik-adikku, ingin kuceritakan kepada mereka bahwa betapa sayangnya dia kepada kalian. Dialah bapak, bapakku sayang.

14 tahun berlalu, namun 11 tahun bersamanya lebih terasa dibanding keberlaluan waktu yang telah lewat. Rabb, sayangi dia. Rabb, lindungilah dia. Rabb, berikan tempat terbaik untuknya di sisiMu. Dialah bapak...

Di riak-ramai gemuruhnya hatiku, di tenangnya ruanganku
Depok, 27 Juni 2014
17.04

Jumat, 13 Juni 2014

Saat Merasa Tidak Lebih Baik dari yang Lain



 
Dalam setiap hadits saat ini selalu diawali dengan bab niat. Meskipun niat ini bukan hadits utama yang disampaikan oleh Rasulullah, namun para ulama bersepakat niat ini yang mengawali segala amalan kita. Niat saja tidak cukup, dijelaskan pula bahwa ikhlas dalam niat merupakan syarat diterimanya amal.
Melakukan keikhlasan, tidaklah semudah mengatakannya. Sebagaimana pernah diakui oleh seorang ulama besar Sufyan ats-Tsauri, beliau berkata, “Tidak ada suatu perkara yang paling berat bagiku untuk aku obati daripada meluruskan niatku, karena niat itu bisa berubah-ubah terhadapku.”
Ikhlas merupakan suatu ilmu, bukan kebiasaan. Sehingga bisa saja dia dilakukan oleh siapapun. Tidak bergantung pada perangai ataupun kebiasaan orang. Sehingga ikhlas bukan sekedar pilihan, tapi adalah suatu perkara sifat yang menempel pada diri seseorang yang diasah dengan pemahaman dan kebiasaan.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Memang benar, ikhlas adalah rahasia, rahasia dalam hati masing-masing insan. Dan ikhlas adalah rahasia dari rahasia yang teramat lembut, sehingga samar dari dugaan semua yang hidup. Begitu samar dan tersembunyi, sehingga sulit bagi diri seseorang atau orang lain untuk mengukur kemurniannya. Dalam hadits Rasulullah SAW dikatakan:
Keikhlasan adalah rahasia yang diambil dari rahasia-rahasia-Ku. Aku telah menempatkannya sebagai amanat di hati sanubari hamba-hamba-Ku yang Aku Cinta.” (HR. al-Qazwaini)
Hasan al-Banna pernah berkata tentang makna ikhlas, “Ikhlas adalah seorang saudara muslim yang bermaksud dengan kata-katanya, amalnya, dan jihadnya, seluruhnya hanya kepada Allah, untuk mencari ridha Allah dan balasan yang baik dari Allah dengan tanpa melihat kepada keuntungan, bentuk, kedudukan, gelar, kemajuan, atau kemunduran. Dengan demikian ia menjadi tentara aqidah dan fikrah dan bukan tentara keinginan atau manfaat.”
Definisi ikhlas ini memang dimaknai cukup banyak oleh alim. Banyak di antara kita melihat keikhlasan adalah suatu bentuk perilaku di mana pelaksanaannya jika kita benar – benar rela. Namun, ikhlas juga dapat dimaknai dengan menjalankan perintah Allah karena sebab taat dan takwa meskipun berat melaksanakannya. Jadi, tidak selamanya ikhlas itu harus dengan rela dan mudah dilaksanakan.
Salah satu sebab jauhnya diri kita dari ikhlas ialah sifat ‘ujub, sifat berbangga diri yang berlebihan, dan menganggap orang lain tidak lebih baik dari diri kita. Sifat ini yang sering muncul tanpa kita sadari, yang mampu merobek-robek keikhlasan dalam diri kita. Ia yang mampu menodai kemurnian ikhlas dalam hati dan ia yang mampu mengotori hati dengan lendir-lendir kenistaan.
Tentunya kita tidak ingin, keikhlasan yang ada di dalam hati ini, keikhlasan yang selalu kita jaga ini, ternodai dan bahkan terkotori. Dan hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga keikhlasan adalah dengan menghapus sifat ‘ujub itu dari dalam hati, membuangnya jauh-jauh tanpa tersisa. Dimulai dengan hal yang kecil dan sederhana, yaitu anggaplah orang lain lebih baik daripada diri kita, anggaplah ia lebih mulia di sisi Allah.
Jikalau kita melihat seseorang yang lebih muda daripada kita, maka hendaklah kita berkata, “Anak ini masih muda usianya, belum banyak berbuat dosa dan bermaksiat kepada Allah, sedangkan aku yang sudah lebih tua darinya tentu telah banyak berbuat dosa dan bermaksiat kepada Allah. Maka tiada keraguan lagi bahwa ia lebih baik daripada aku di sisi Allah.”
Jikalau kita melihat seseorang yang lebih tua daripada kita, maka hendaklah kita berkata, “Orang tua ini sudah beribadah kepada Allah lebih dahulu daripada aku, maka tiada keraguan lagi bahwa ia lebih banyak pahalanya, lebih mulia daripada aku di sisi Allah.”
Manakala kita melihat orang alim, maka hendaklah kita berkata, “Orang alim ini telah dikaruniakan kepadanya bermacam-macam pemberian ilmu yang tidak dikaruniakan kepadaku. Ia telah sampai ke martabat yang aku tak sampai kepadanya, dan ia mengetahui berbagai masalah yang tak aku ketahui, maka bagaimana aku bisa sepertinya sedangkan diriku masih bergelimang dengan dosa dan maksiat?”
Bila kita melihat orang yang bodoh, maka hendaklah kita berkata, “Orang ini bodoh lantas ia berbuat maksiat kepada Allah dengan kejahilannya, tetapi aku berbuat maksiat dengan ilmuku, dengan kesadaranku, maka bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah nanti?”
Saat kita menyaksikan orang fasik atau ahli maksiat, maka hendaklah kita berkata, “Benar orang ini jasadnya bergelimang dalam kemaksiatan dan dosa, tapi siapa yang tahu kalau sebenarnya hatinya selalu benci pada kemaksiatan yang ia lakukan, dan bersamaan dengan itu ia tetap mengagungkan Tuhannya. Terbuka kemungkinan suatu saat nanti ia bertaubat dan menyesali perbuatannya, lalu ia melakukan amal shalih yang nilainya lebih tinggi di mata Allah daripada aku. Sedangkan aku sendiri sampai saat ini dan nanti, tidak pernah tahu apakah ketaatanku itu diterima oleh Allah atau tidak. Dan aku juga tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi pada diriku esok hari.”
Di kala kita melihat orang kafir, maka hendaklah kita berkata, “Aku tidak tahu, kemungkinan orang kafir ini akan beriman, memeluk agama Islam dan akhirnya mempunyai husnul khatimah, sedangkan aku tidak tahu apakah akan bisa menjaga keimanan ini hingga akhir hayat dan mendapatkan husnul khatimah?”
Pertanyaan seperti ini bukan mengada-ada, tapi pasti dan yakin. Karena jika kita bertanya, siapakah yang dapat memastikan kalau kita dapat menjaga keimanan ini hingga akhir hayat, lalu kita memperoleh husnul khatimah? Siapa yang bisa tahu secara pasti kalau dirinya pasti diampuni oleh Allah? Siapakah yang dapat menjamin kalau diri kita pasti selamat di akhirat? Semua itu adalah rahasia Allah, yang tiada seorang pun yang dapat mengetahuinya. Bahkan beliau, Rasulullah SAW berkata:
Katakanlah: Aku tidak mengatakan padamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah, ‘Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS. Al-An’aam: 50)
Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-‘Araaf: 188)
Referensi: Mahmud Ahmad Mustafa, Dahsyatnya Ikhlas.