Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Juni 2013

Rahmah El Yunusiyyah, Mujahidah tanpa Emansipasi

Di antara para pahlawan Nasional, terdapat sederet nama-nama wanita dari berbagai daerah dan beragam cara berjuangnya. Kalau Cut Nyak Dien dan Keumalahayati berjuang dengan mengangkat senjata tanpa mendirikan sekolah, sementara Dewi Sartika berjuang dengan mendirikan sekolah tanpa mengangkat senjata. Tapi selain mereka, lihatlah Rahmah El Yunusiyah, yang berjuang dengan mendirikan sekolah sekaligus mengangkat senjata. Dan ia pertaruhkan seluruh jiwa raganya demi agama.

Jilbabnya yang panjang nan lebar melebihi dada selalu dikenakannya, memperlihatkan didikan dan penanaman agama yang sangat kuat pada dirinya.

“Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan dituntut dari diri saya”, kata Rahmah El Yunusiyah suatu hari bertekad.

Ia merasa gelisah ketika melihat perempuan di daerahnya belum mendapatkan pendidikan yang sama seperti yang didapatkan laki-laki, utamanya pendidikan agama. Padahal Islam sendiri tidak pernah membatasi perempuan untuk menuntut ilmu. Ia gelisah, karena kaumnya masih terjerat dengan kebodohan dan ia ingin mengeluarkan kaumnya dari jerat kebodohan melalui pendidikan. Rahmah sadar benar bahwa hanya dengan pendidikan lah, ia bisa memajukan kaumnya dan bisa mengeluarkan kaumnya dari ketertinggalan.

Pelopor Pendidikan Perempuan

Rahmah El Yunusiyah lahir pada tanggal 1 Rajab 1318 Hijriyah atau 20 Desember 1900. Bukit Surungan, Padang Panjang menjadi saksi bahwa dari sanalah calon Mujahidah lahir dan tumbuh. Anak bungsu dari lima bersaudara ini terlahir dari seorang Ayah yang bekerja sebagai Hakim dan ahli Ilmu Falak (astronomi) bernama Muhammad Yunus bin Imanuddin dengan seorang ibu bernama Rafi’ah.

Rahmah kecil telah mendapat pendidikan formal sekolah dasar selama tiga tahun di kota kelahirannya, Padang Panjang. Saat ia berusia 15 tahun, pendidikan bahasa Arab dan Latin ia dapatkan dari Diniyah School (1915) dan dari kedua kakaknya, Zaenuddin Labay dan Muhammad Rasyid. Setiap sore, Rahmah remaja rutin mengaji pada Haji Abdul Karim Amrullah yang merupakan ayah dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau HAMKA di surau Jembatan Besi, Padang Panjang.

Saat berumur 23 tahun, Rahmah nampak sempurna dan begitu istimewa untuk ukuran perempuan seusianya. Keinginan besarnya untuk memajukan keilmuan kaumnya dan mengeluarkan kaumnya dari kebodohan begitu bergelora. Karena bagi Rahmah sendiri, perempuan memiliki peran yang penting dalam kehidupan, utamanya dalam rumah tangga. Karena rumah tangga adalah bagian dari tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang negara. Tentulah ia tidak mau, kaumnya yang mempunyai peran penting dalam tiang negara dan pendidikan anak-anaknya tertinggal dari laki-laki.

Akhirnya pada tanggal 01 November 1923, Rahmah dengan dukungan dari kakaknya, Zaenuddin Labay dan teman-teman perempuannya di PMDS (Persatuan Murid-murid Diniyyah School) memutuskan untuk mendirikan sekolah khusus Perempuan yang dinamai Diniyah School Putri atau Madrasah Diniyah li al-Banat yang bertempat di Masjid Pasar Usang.

Saat itu, muridnya masih berjumlah 71 orang dan terdiri dari ibu-ibu muda, termasuk putri dari Teungku Panglima Polim dan Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Pelajaran yang ajarkan yaitu ilmu agama dan tata bahasa Arab, namun belakangan sekolah ini menerapkan pendidikan modern dengan menggabungkan pendidikan agama, pendidikan sekuler dan pendidikan keterampilan.

“Diniyah School Puteri ini selalu akan mengikhtiarkan penerangan agama dan meluaskan kemajuannya kepada perempuan-perempuan yang selama ini susah mendapatkan penerangan agama Islam dengan secukupnya daripada kaum Lelaki…, Inilah yang menyebabkan terjauhnya penerangan perempuan Islam daripada penerangan agamanya sehingga menjadikan kaum perempuan itu rendam karam ke dalam kejahilan”, kata Rahmah.

Tiga tahun kemudian, gempa hebat mengguncang Sumatera Barat pada tahun 1926, bangunan sekolah dan asrama yang baru ia rintis luluh lantak, meski begitu Rahmah tidak menangis, Rahmah langsung bangkit kembali. Dengan susah payah, ia membangun kembali sekolahnya dengan batangan bambu dua lantai berukuran 12×7 m2 dan menghimpun kembali para muridnya.

Namun, rupanya hal itu tidak cukup, bersama pamannya ia menjelajahi Aceh, Sumatera Utara hingga menyebrangi selat malaka untuk mencari bantuan dana ke Malaysia. Ternyata usahanya tidak sia-sia, Rahmah berhasil mengumpulkan dana yang cukup besar, yaitu sekitar 1569 gulden.
Kiprahnya dalam memajukan pendidikan bagi perempuan, tidak hanya membangun Diniyyah Putri School, tapi Rahmah juga mempelopori sekolah khusus perempuan.

Pada tahun 1955, Rektor Universitas Al Azhar Kairo, Syaikh Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyyah Putri School, ia tertarik dengan sistem pembelajaran khusus yang ada di sekolah tersebut. Dari sana, ia menimba pengalaman dari sekolah yang didirikan oleh Rahmah. Tidak lama setelah kunjungan tersebut, kampus Islam tertua di dunia itu membuka pendidikan khusus Perempuan yang bernama kulliyyât al-banât. Waktu itu memang, Al Azhar belum memiliki sekolah pendidikan khusus perempuan.

Dari rektor Al Azhar ini pula, pada tahun 1957, Rahmah mendapat gelar Syaikhah, gelar istimewa yang diberikan hanya untuk orang-orang yang ahli dalam bidang tertentu dan menguasai khazanah ilmu-ilmu keislaman. Gelar tersebut setara dengan gelar Syaikh Mahmoud Shaltout, yang merupakan mantan Rektor Al Azhar.

Menolak Kesetaraan Gender

Pada saat Rahmah masih hidup, gelombang dan wacana tentang emansipasi dan kesetaraan gender di Barat masih terus berlanjut. Meski demikian hal ini tidak mempengaruhi sikap dan pemikirannya, ia tetap pada fitrahnya sebagai perempuan. Cicit atau keturunan keempat Rahmah, Fauziah Fauzan El Muhammady pun mengakui hal ini.

“Apa pandangan Bunda Rahmah terhadap emansipasi wanita? Mengacu pada surat an-Nahl ayat 97 bahwa barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Jadi bunda Rahmah menganggap tidak ada lagi emansipasi wanita karena Islam sudah memberikan porsi”, kata Fauziah Fauzan, pemimpin Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang.

Meski menentang pembatasan mencari ilmu bagi perempuan, namun Rahmah tidak serta merta menjadi seorang Feminis, hal ini terlihat saat Rahmah mengikuti kongres Kaum Perempuan di Batavia pada tahun 1935, ia mewakili kaum ibu Sumatera Tengah.
Dalam kongres tersebut ia memperjuangkan pemakaian busana perempuan Indonesia yang hendaknya memakai kerudung. Selain itu, dalam kongres tersebut, ia juga berusaha memberikan ciri khas budaya Islam ke dalam kebudayaan Indonesia.

Mujahidah Sejati

Jati dirinya sebagai mujahidah sejati, tetap ia buktikan saat menentang pemerintah Jepang yang kala itu masih menjajah Indonesia, ia dan temannya mendirikan organisasi sosial politik seperti ADI (Anggota Daerah Ibu) Sumatera Tengah, tujuannya untuk menentang pengerahan kaum perempuan Indonesia terutama di Sumatera Tengah sebagai jugun ianfu (perempuan penghibur) tentara Jepang.

Kelompok ini menuntut pemerintah Jepang agar menutup rumah kuning (istilah untuk prostitusi waktu itu) karena tidak sesuai dengan kebudayaan dan agama yang dipeluk oleh bangsa Indonesia. Ternyata tuntutan itu berhasil. Perempuan Indonesia tidak lagi menjadi budak pemuas nafsu seks tentara Jepang. Sebagai gantinya, Jepang mendatangkan perempuan-perempuan dari Singapura dan Korea.

Begitu pun saat masa pemerintahan Soekarno, Rahmah berani dan rela dikucilkan Soekarno, karena menentang kedekatan antara presiden Indonesia pertama ini dengan Komunis. Meski dicap sebagai pemberontak oleh pemerintah pusat saat itu karena bergabung dengan PRRI/PERMESTA, namun Rahmah tidak perduli dan menerima kebencian Soekarno pada dirinya dengan lapang dada.

Tidak cukup berhenti sampai di situ, pada tanggal 12 Oktober 1945, Rahmah mempelopori berdirinya TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang anggotanya berasal dari Gyu Gun Ko En Kai atau Laskar Rakyat. Dapur asrama dan harta miliknya direlakan untuk pembinaan TKR yang rata-rata masih muda usia. Ia tidak hanya terkait dengan BKR, TKR, TRI (kemudian berubah jadi TNI), tetapi juga mengayomi barisan pejuang yang dibentuk organisasi Islam seperti laskar Sabilillah, laskar Hizbullah dan lain-lain. Karena sifatnya yang mengayomi, pemuda-pemuda pejuang kemerdekaan menyebutnya sebagai Bundo Kanduang dari barisan perjuangan.

Pada tahun 1952-1954, Rahmah menjadi anggota Dewan Pimpinan Pusat Masyumi di
Jakarta dan terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara untuk periode tahun 1955-1958.

Rahmah menghembuskan nafas terakhirnya pada malam Idul Adha, tanggal 26 Februari 1969. Setidaknya ia telah memberikan kita, kaum perempuan, banyak pelajaran, bahwa menjadi pejuang, menjadi seorang Mujahidah, tidak perlu sampai mengorbankan kewajiban kita sebagai Ibu dan Wanita. Cukuplah Khadijah, Aisyah, Khansa dan Rahmah El Yunusiyah sebagai contoh kita bahwa betapa mulianya tugas kita di hadapan-Nya.

Referensi :
Beberapa bahan diambil dari Keterangan langsung Fauziah Fauzan saat mengisi Seminar Kepahlawanan tanggal 10 November 2012 di Universitas Negeri Jakarta.
Dialog Rahmah diambil dari buku Jajat Burhanuddin, Tentang Perempuan Islam : Wacana dan Gerakan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004.
Ahmad Rifa’I, Pahlawan Muslimah tanpa Penghargaan,http://ranahbundo.blogspot.com/
Abdullah Ubaid Matraji, Rahmah El Yunusiyah Pendiri Diniyyah Putri Padang Panjang,http://buyamasoedabidin.blogspot.com/2008/08/rahmah-el-yunusiah-pendiri-diniyah.html
Unknown, http://anaksaleh.com/dunia-islam/70-tokoh-islam-dunia/346-syaikhah-rahmah-el-yunusiah

http://thisisgender.com/rahmah-el-yunusiyyah-mujahidah-dan-pelopor-pendidikan-perempuan-asal-padang/
sumber: thisisgender.com (05)

http://www.facebook.com/maimon.herawati

Jumat, 15 April 2011

Sejarah Islam di Kabupaten Jayawijaya

A.Sejarah Islam Suku Dani Balim Wamena

1. Muslim Balim Wamena

Dalam berbagai laporan para ahli dan seminar-seminar menunjukkan bahwa sebelum agama-agama besar lainnya datang ke Papua Islam sudah lebih awal masuk ke Papua. Sebagaimana hal ini di laporkan seorang antropolog Papua Dr. J. R. Mansoben (1997) : ‘Agama besar pertama yang masuk ke Irian Jaya (Papua) adalah Islam. Agama Islam masuk di Irian Jaya yaitu di daerah Kepulauan Raja Ampat dan daerah Fak-Fak berasal dari Kepulauan Maluku dan disebarkan melalui hubungan perdagangan yang terjadi diantara kedua daerah tersebut’. Menurut Van der Leeder (1980, 22), agama Islam masuk di kepulauan Raja Ampat pengaruh dari kesultanan Tidore tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku pada abad ke 13.[1]

Maka tidaklah mengherankan bila, ‘kedatangan Missionaris Kristen pertama justru diantar oleh Muballiqh Islam dari Kerajaan Tidore pada tanggal 5 Februari 1855 di sebuah Pulau Kecil Mansinam diperaiaran Manokwari. Dua Missionaris dari Jerman itu adalah C. W. Ottow dan G. J. Geissler’.[2]

Pengaruh Islam secara luas diseluruh pelosok daerah Propinsi Irian Jaya dan dengan semua kelompok suku di daerah ini dalam hidup sehari-hari dalam semua bidang kehidupan, baru mulai dirasakan setelah Irian Jaya berintegrasi menjadi bagian dari Republik Indonesia awal tahun 1060-an.[3]

Dalam akhir tahun 1960-an akhir di kota Wamena datang penduduk transmigrasi dari Jawa dan para perantau (urban asal Indonesia Timur, terutama orang Bugis, Buton, Makassar dan Madura atau Jawa Timur. Perkenalan agama Islam Suku Dani di Wamena dalam masa ini melalui interaksi sosial dan perdagangan antara para pendatang dan penduduk asli. Dengan demikian, maka interaksi Agama Islam dikalangan Suku Dani Jayawi Jaya, terjadi pasca integrasi dengan Indonesia pada dekade 1960-an, melalui guru-guru dan transmigran dari Pulau Jawa di daerah Megapura (Sinata).

Kemudian secara lebih intensif melalui para urban dari Indonesia Timur, Suku Dani Palim Tengah dan Palim Selatan dari Moiety : Asso-Lokowal Asso-Wetipo, Lani-Wetapo, Wuka-wetapo, Wuka-Hubi, Lagowan-Matuan dan Walesi, memeluk agama Islam. Dari sejumlah saksi mengatakan bahwa Esogalib Lokowal adalah orang paling pertama dari Palim Selatan yang masuk agama Islam. Kemudian Harun Asso (dari Hitigima/Wesapot), Yasa Asso (dari Hepuba/Wiaima), Horopalek Lokowal, Musa Asso (dari Megapura/Sinata), Donatus Lani (dari Lanitapo).[4]

Dalam tahun 1960-an akhir didaerah Megapura, Hitigima/Wesapot, Hepuba, Woma, Pugima dan Walesi (kini di Walesi clan Asso-Yelipele seluruh warganya 100% beragama Islam) adalah daerah pertama yang berinteraksi dengan Orang Muslim dari berbagai daerah Nusantara. Muhammad Ali Wetipo, misalnya; dari konfederasi Asso-Lokowal dari daerah Hepuba masuk Agama Islam melalui orang Pendatang di Kota Wamena dalam tahun 1967 dan datang sekolah di Panti Asuhan Muhammadiyyah AB-Pura Jayapura.[5]

Demikian sama halnya dengan Ilham Walelo dan Abdul Mu’in Itlay dari Pugima, dalam tahun 1969 mereka sekolah di Panti Asuhan Muhammadiyah, AB-pura Jayapura sampai tamat dari sekolah ini dalam tahun 1979, kemudian melanjutkan studynya di IAIN Jakarta (kini UIN).[6]

2. Muslim Walesi

Berbeda dengan daerah lain di Lembah Balim, di Walesi Pada tahun 1975 Merasugun Asso, Firdaus Asso dan Muhammad Ali Asso, adalah generasi pertama yang paling awal masuk islam dan mengembangkannya menjadi besar sampai dewasa ini. Karena diikuti oleh semua kalangan pemuda dari Konfederasi Asso-Yelipele Walesi misalnya; Nyasuok Asso, Walekmeke Asso, Nyapalogo Kuan, Wurusugi Lani, Heletok Yelipele, Aropeimake Yaleget, dan Udin Asso, sehingga memiliki pengaruh sangat besar eksistensi Islam dan Muslim Jayawijaya hingga kini.

Namun ada juga yang masuk Islam melalui perkenalan dengan kalangan militer Indonesia yang datang bertugas di Kodim Jayawi Jaya, Misalnya Aipon Asso, (Kepala Suku Besar). Keislaman Aipon Asso dalam tahun 1976 dan mendapat dukungan dari seorang militer berpangkat Kolonel bernama Muhammad Thohir.[7]

Kegiatan organisasi khusus yang melakukan da’wah islamiyyah kala itu belum ada di Lembah Balim Jayawijaya. Setelah orang-orang dari Walesi masuk Islam tahun 1975 secara serentak dalam jumlah besar mulai diorganisir oleh Islamic Centre.[86]

3. Kisah Islam Merasugun dari Walesi

Yang paling awal memeluk agama Islam dan memperjuangkankannya menjadi besar adalah Merasun Asso (berikutnya hanya ditulis Merasugun). Konon kisahnya; melalui hubungan perdagangan. Merasugun yang kala itu ingin mencari kayu bakar di hutan untuk ditukarkan dengan nasi. Merasugun kemudian mengajak dua anak muda yaitu Firdaus Asso dan Ali Asso dari kampung Walesi, 6 km arah selatan dari Kota Wamena dalam tahun 1975.[9]

Merasugun kira-kira berusia 45 tahun dan dua anak muda yakni Firdaus Asso,dan Muhammad Ali Asso, keduanya kira-kira berusia 15 tahun kala itu, adalah generasi pertama yang mula-mula masuk Islam serta mengembangkan Islam di Walesi.

Selanjutnya Merasugun, Firdaus Asso dan Ali Asso, membawa kayu bakar untuk barter dengan nasi kepada seorang pendatang asal Madura (konon saat itu anggota Dewan Tk. II Jayawijaya), yang sebelumnya sudah berkenalan dengan Merasugun..
Dari pertama pertemuan hingga pertemuan ketiga mereka sudah saling akrab. Kedatangan Merasugun dan dua anak muda kali ketiga, persis waktu shalat dhuhur tiba. Maka mereka disuruh tunggu sebentar karena pembeli kayu yang beragama Islam itu ingin shalat dahulu.

Merasugun memperhatikan apa yang dilakukan kenalannya. Pembeli kayu itu melakukan gerakan yang sebelumnya asing bagi Merasugun yaitu sholat dan berdo’a dengan gerakan khusyu’. Merasugun bergumam dengan perasaan agak keheranan, kepada dua anak muda yang mendapinginya dalam bahasa Balim berkomentar demikian : “O..oh.yire esilam meke”!, artinya “Oh, ini orang Islam"!

Di kampungnya Merasugun sebelumnya pernah mendengar kabar bahwa Agama Islam adalah agama yang tidak boleh makan daging babi, (satu-satunya hewan ternak paling utama di Lembah Baliem). Bahkan Merasugun sering mendengar issu bahwa kehadiran orang-orang pendatang Muslim yang tidak makan daging babi, akan memusnahkan semua babi di Lembah Baliem, (dalam agama Islam, memakan daging Babi hukumnya diharamkan/tidak boleh).[10]

Walaupun sebelumnnya isu bahaya agama Islam sering didengar, Merasugun menyuruh Firdaus Asso dan Ali Asso masuk agama Islam, dan belajar melakukan "misa Islam”[11], (maksudnya sholat). Karena menurutnya orang Muslim Madura itu baik, tidak seperti diisukan orang-orang dikampungnya .

Karena itu Merasugun menyuruh dua anak muda itu masuk Islam dan belajar “misa Islam". Lalu katanya; “Kalian boleh masuk Agama Islam karena orang ini baik”! Keinginan dan usulan Merasugun disetujui dua anak yang masih keponakannya itu.[12]

Keinginan dan usul Merasugun diterjemahkan dan disampaikan oleh Firdaus Asso dan mereka bertiga bertekad mau masuk Agama Islam, tapi orang Madura itu keberatan karena alasannya takut ada tuduhan islamisasi. Tapi kekhawatiran itu disanggah oleh Merasugun dengan mengatakan bahwa sebelumnya dirinya tidak menganut agama apapun dan itu adalah keinginan hatinya dan dua anak keponakannya. Dialog tersebut diterjemahkan oleh Firdaus Asso, yang sudah lancar berbahasa Indonesia .

Sejenak Orang Madura yang belum dikenal namanya hingga kini itu berfikir, lalu menatap wajah ketiga orang yang masih lugu dan masih mengenakan koteka itu. Dan katanya; “Boleh, tapi kamu harus menutup Aurat!”, Segera ia ke kamar dan memberikan serta memakaikan Merasugun celana tanpa menanggalkan koteka yang sedang dikenakan. Selanjutnya Muslim Madura itu sampaikan niat tiga orang Suku Dani dari Walesi ini kepada tokoh muslim lain yang ada di sekitar kota Wamena.

Pada Minggu berikutnya Merasugun, Ali Asso, dan Firdaus Asso disuruh datang pada hari Jum'at. Dan secara resmi disyahadatkan ba'dah jum'at di masjid Baiturrahman Wamena yang disaksikan oleh jama'ah sholat jum’at. Minggu-minggu selanjutnya Merasugun, Firdaus Asso dan Ali Asso (dua pemuda ini kelak pejuang Islam setelah sepeninggal Merasugun tahun yang wafat tahun 1978), selalu datang ikut sholat Jum’at, dengan tiap pagi jalan kaki turun-naik gunung sekitar 6 km dari Walesi ke Wamena Kota.

a). Perjuangan Merasugun Asso

Merasugun tidak lama sesudah masuk Agama Islam meminta agar dibangunkan "Gereja Islam", (maksudnya Masjid), di kampungnya di Walesi sekaligus Sekolah Islam agar anak-anaknya dari clan Assolipele Walesi bisa sekolah. Untuk maksud ini Merasugun menyediakan tanah wakaf serta menyiapkan batu, kayu, pasir di kampungnya.

Usulan ini segera disetujui oleh beberapa orang muslim yang datang di Wamena sebagai Petugas pemerintah sipil maupun militer seperti Pak Paijen dari Dinas Agama, Pak Thohir dari Kodim, dan Abu Yamin dari Polres Jayawijaya. Karena itu, sebelum kalau ingin dibangunkan Masjid dan Madrasah di Walesi, Merasugun harus datang membantu bekerja mengangkat batu dan mengumpulkan pasir dari Kali Uwe karena Masjid Raya Baiturahman Kota Wamena saat itu sedang dibangun.

Syarat ini disetujui oleh Merasugun, berikutnya Merasugun, Ali dan Firdaus Asso pulang ke Walesi dan mengundang segera tenaga kerja kepada Nyasuok Asso, Nyapalogo Kuan, Aropemake Yaleget, Wurusugi Lani, Udin Asso dan Walekmeke Asso, untuk mengeruk galian batu dan pasir di sekitar Kota Wamena, dari Kali Uwe. Keenam orang nama tersebut kelak menjadi pemeluk Agama Islam dari Walesi gelombang kedua.[13]

b). Dokter Mulya Tarmidzi Mengkhitan

Suatu ketika dalam tahun 1978 seorang dokter Kolonel Angkatan Laut X dari Hamadi, Jayapura Propinsi Papua, diundang ceramah datang ke Kabupaten Jayawijaya, untuk memberikan ceramah, yang tempatnya di gedung bioskop kota Wamena. Oleh sebab itu Merasugun dan warga lainnya dari Walesi yang muallaf diundang datang mendengarkan ceramah.

Penceramah yang tidak lain adalah Dokter Kolonel H. Muhammad Mulya Tarmidzi itu selesai ceramah sampai sekitar jam sebelas malam. Selanjutnya ia menginap di Hotel Baliem. Kira-kira pada jam 12 tengah malam Merasugun, Firdaus Asso, Nyapalogo Kuan, Nyasuok Asso dan Ali Asso, Aropemake Yaleget, Udin Asso dan Wurusugi Lani datang mengetuk pintu kamar Dokter Mulya menginap dengan mengucap salam khas muslim yakni; : “Assalamu'alaikum”! Walaupun sudah tengah malam karena mendengar ucapan salam khas Muslim, Dokter Mulya Tarmidzi, berani membukakan pintu.

Dan ternyata salam itu berasal dari orang-orang yang masih mengenakan koteka ini adalah orang yang tadi dilihatnya di gedung Bioskop. Dia sebelumnya menduga mereka bukan muslim, karena Merasugun dan rombangan lainnya masih mengenakan Holim/Koteka, (kecuali Firdaus Asso sudah mengenakan celana pendek). Dan dia menganggap bahwa mereka mungkin pas lagi lewat atau memang sekedar mencari makanan dalam acara ceramah itu.

Tatkala dipersilahkan duduk diruang tamu di hotel oleh Dokter Mulya Tarmidzi, Merasugun menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya dengan beberapa pemuda dari Walesi. Setelah minta maaf karena datang ditengah malam. Lalu Merasugun menyampaikan beberapa usulan yaitu :
  1. Permohonan dukungan agar di kampungnya segera dibangunkan "Gereja Islam”.
  2. Anak-anak dari Walesi kelak menjadi pintar seperti dokter Mulya untuk itu perlu disekolahkan di Jayapura
  3. Agar di Walesi di bangunkan Madrasah

Semua usulan diterima dan disetujui secara baik dan kepada Merasugun dijanjikan oleh dokter Mulia Tarmidzi, bahwa nanti akan diusahakan secara bertahap dengan mengkoordinasikan usulan Merasugun, kepada orang-orang Muslim lain terlebih dahulu.

Dalam kesempatan itu sejumlah usul dan keinginan Merasugun semua disampaikan dalam bahasa Wamena kepada Dokter Muhammad Mulya Tarmidzi, yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Firdaus Asso yang sudah sekolah di SD Inpres, Megapura sehingga sudah lancar berbahasa Indonesia.

Selanjuntnya semua usul secara baik disetujui oleh Dokter Kolonel Haji Muhammad Mulya Tarmidzi dan untuk mendukung keinginan Merasugun ini segera dibentuk Islamic Centre yang pengurusnya dari pejabat pemda. Esok harinya dibantu oleh tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Kota Wamena; Letnan Kolonel Muhammad Mulya Tarmidzi, segera menyunat (khitan) 8 orang pertama yang masuk Agama Islam itu untuk menyempurakan syahdatnya; kira-kira demikian hemat Kolonel yang juga Dokter dan Ahli Agama Islam itu.

Pada bulan berikutanya dalam tahun 1978, anak-anak dari Walesi sebanyak 5 orang (termasuk Firdaus Asso dan Muhammad Ali Asso) di kirim ke Jayapura dan dititipkan kepada beberapa orang pejabat muslim sebagai orang tua asuhnya. Demikian sudah harapan dan cita-cita Merasugun terkabul agar anak-anak dari Walesi untuk disekolahkan diluar Wamena. “Agar kelak ada yang menjadi seperti Dokter Mulya Tarmidzi,” demikian usul Merasugun yang diterjemahkan oleh Firdaus Asso.

Usulan paling penting di antaranya yang diusulkan oleh Merasugun adalah kontruksi bangunan model Pondok Pesantren Model di Jawa yang membuat decak kagum. Dokter Kolonel Muhammad Mulya Tarmidzi, mengingat Merasugun belum penah tahu kalau yang diusulkannya itu adalah persis sama model kontruksi dan sistem bangunan lingkungan Pondok Pesantren yang biasa ada di Pulau Jawa. [14]

Kemudian 20 orang dalam bulan berikutnya dikirim dan diasuh oleh beberapa Orang Tua Asuh di kota Jayapura. Ongkos pengiriman semua ditanggung oleh Haji Saddiq Ismail, (kala itu Sadiq Ismail menjabat Kabulog Propinsi Irian Jaya) yang selanjutnya membentuk Kasub Dolog Jayawijaya guna mempermudah menyampaikan bantauan logistik dan bantuan material lainnya karena di Walesi segera akan dibangun Masjid dan Madrasah sesuai keinginan dan usulan Merasugun dulu.

Guna memperlancar transportasi dan memudahkan pengangkutan material bangunan Masjid dan Madrasah Walesi, Ir. Haji Azhari Romuson, Kepala PU Propinsi Papua segera membangun jalan Walesi-Wamena sekitar 6 Km. Bisa dibayangkan semua usulan Merasugun dulu sejak Dokter Kolonel Angkatan Laut Muhammad Mulya Tarmidzi, Haji Saddiq Ismail SH Kadolog Propinsi, dan Ir. Haji Azhari Romusan dari PU Propinsi adalah cukup besar perannya perkembangan Islam lebih lanjut di Walesi.

Bertepatan dengan 20 anak Walesi yang dipimpin Firdaus Asso datang sekolah di Jayapura untuk melanjutkan pendidikannya disekolah Muhammadiyah dan Madrasah Ibtidaiyyah di Ibukota Propinsi Papua. Dua Kepala Suku Perang yang Berani dari Clan Assolipele secara resmi disyahadatkan oleh Kolonel Thahir, di Wamena. Kolonel Thahir adalah Pendatang dari Bugis dan Tentara yang saat itu bertugas di Kodim Jayawijaya.[15]

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah SWT, dan akan dikembalikan kehadirat-Nya kapan saja dikehendaki-Nya”, “sebagaimana juga Dia memberikan hidayah kepada siapa yang di kehendaki-Nya”, dan akhimya pada tahun 1980 Merasugun telah dipanggil kehadirat Allah SWT, dengan meninggalkan semua usulan dakwahnya yang belum tuntas, yakni obsesinya mewujudkan kompleks Islamic Centre terutama Masjid dan Madrasah.

Dua tahun sepeninggal Merasugun pada tahun 1982 bangunan sekolah (Madrasah Ibtidaiyah) dan masjid selesai. Untuk menghormati atas jasa-jasa semangat perjuangan Merasugun, maka nama Madrasahnya diabadikan menjadi Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi.

Demikian juga dengan Pemuda Firdaus Asso menyusul dipanggil Allah SWT untuk selamanya pada tahun 1984 di Jayapura. Firdaus Asso yang sangat berjasa dan berperan besar mengembangkan Islam di kalangan suku pribumi di Walesi, sesudah Merasugun. Dia menyusul kepergian Merasugun setelah dua tahun dalam usia yang sangat muda dan produktif yakni 25 tahun.[16]

4. Perkembangan Islam Masa Kini

a). Muslim Wamena

Dari sejak tahun 1960-an akhir sampai tahun 1970-an awal, di kota Wamena Kabupaten Jayawijaya banyak datang penduduk pindahan dari Jawa (Transmigrasi), dan para perantau asal Indonesia Timur, terutama orang Madura, Bugis, Buton dan Makasar. Pengenalan Agama Islam lebih intensif dengan Suku Dani di Wamena Kabupaten Jayawijaya melalui interaksi dalam masa ini, terutama perdagangan sistem barter antara para muhajirin pendatang dan penduduk lokal yang berbusana koteka.

Proses percepatan dakwah di Jayawijaya juga sangat didukung oleh kehadiran militer yang beragama Islam yang bertugas dalam tahun 1960-an akhir di Kota Wamena. Penduduk yang lebih awal masuk Islam menuturkan bahwa Islamisasi sepenuhnya didukung secara individu dari Muslim yang kebetulan anggota Militer yang bertugas di Sinata (kini Megapura, 4 km selatan dari Kota Wamena).

Organisasi dakwah baru didirikan guna lebih menunjang proses dakwah, seperti Islamic center, YAPIS, Panti Asuhan Muhammadiyah dan akhir-akhir ini juga Hidayatullah dan NU di Wamena giat melakukan dakwah dikalangan pribumi Muslim Suku Dani di Wamena.

b). Muallaf di Walesi

Di kota Wamena arah selatan 6 km kini terdapat penduduk pribumi yang penduduknya beragama Islam sejak lama. Walesi adalah pusat Islam (Islamic Centre), bagi pengembangan Islam dari kalangan penduduk asli. Guru-guru (ustadz), sejak awal didatangkan dari Fak-Fak yang sejak dulu muslim dari abad ke 16 di selatan kepala Burung Papua. Kini di walesi terdapat sebuah Pondok-Pesantren Al-Istiqomah Merasugun Asso, Madrasah Ibtidaiyah, rumah guru 4 buah, masjid 12x12 (masji ini dibangun dan selesai pada tahun 1980, atas bantuan dana dari pemerintah Malaysia) dan sebuah puskesmas. Walesi sebagai Islamic Centre telah menampung anak-anak Suku Dani dari 12 kampung yang masyarakatnya baragama Islam.

Masyarakat Muslim Jayawijaya terdiri dari 12 kampung yang penduduknya telah lama menganut Agama Islam pada tahun 1960-an akhir pasca integrasi. Kampung-kampung itu adalah Hitigima, Air garam, Okilik, Apenas, Ibele, Araboda, Jagara, Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu dan Pugima. Jumlah penganut Islam di Wamena kabupaten Jayawijaya kira-kira 12 ribu jiwa, dari 400 ribu jiwa seluruh penduduk Jayawijaya, namun angka yang lebih tepat jumlah pemeluk Islam belum diperoleh secara pasti.

c). Anak-Anak Muallaf

Anak-anak Muallaf adalah kelompak potensial proses Islamisasi di Kabupaten Jayawijaya, mengingat semua agama besar yang kini hadir di Papua khususnya di Pegunungan Tengah, umumnya tidak mampu merubah pola kehidupan lama masyarakat tradisional Papua yang memiliki religi lama yang berorientasi masa lampau.

Kalangan Birokrat Muslim yang menjabat sebagai Ketua Islamic Centre menyadari ini, maka secara periode mengirim anak-anak muallaf dari Suku Dani, dikirim belajar pertama di Panti Asuhan Muhammadiyah AB Jayapura dan Madarasah Ibtidaiyyah YAPIS di Ibu kota Jayapura dalam tahun 1972 sebanyak 20 orang anak.

Dalam tahun 1980 ada 2 orang anak Suku Dani datang belajar di Universitas Muhammadiyah Jogjakarta. Sedang lulusan Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi sebanyak 4 orang pertama didatangkan ke pondok pesantren Al-Mukhlisin, dan Darul Falah, Bogor. Kini dari anak-anak ini ada yang menempuh pendidikan di berbagai universitas Islam Bogor (Ibnu Kholdun), UMJ dan UIN Ciputat

Saat ini tiga orang dari Walesi menempuh S2 konsentrasi di studi Islam dan Otonomi Khusus UMJ Ciputat Jakarta. Dua orang lain lagi di UM Jogjakarta dan UIN di kota yang sama.

Jumlah seluruhnya anak-anak Muallaf asal Suku Dani dari Papua kini tersebar di berbagai kota studi di Pulau Jawa dan mayoritas di Ciputat berjumlah 21 orang. Sedang anak-anak Muallaf yang belajar di pondok pesantren sebanyak 45 orang yang sudah terdata. Jumlah ini tidak termasuk anak-anak yang dibawa koordinasi Ustadz Aliyuddin sejak tahun 1990-an awal berkisar 700 orang dari seluruh Papua.

d). Pengiriman anak-anak Suku Dani ke Pondok Pesantren

Sejak tahun 1980 anak-anak muslimah dari kalangan Muallaf Dari Kabupaten Jayawijaya, sudah dikirim sebagai peserta MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur'an dan lomba Qosidah tingkat Nasional mewakili Propinsi Irian Jaya (kini Papua). Mereka mempunyai bakat dan potensi yang sama dengan anak-anak prianya. Namun yang menjadi masalah adalah tradisi yang bahwa: Orang Tua Suku Dani tidak dapat membiarkan anak- anak perempuan mereka pergi jauh. Dampak dari kurangnya kesadaran Orang Tua Suku Dani di Wamena saat ini adalah denagn mengawinkan anak-anak usia sekolah yang masih belasan tahun.

Sampai dewasa ini dari 20 anak perempuan muslimah Suku Dani belajar di SMU Yapis Wamena. Dari Wamena Muslim, kaum perempuannya belum ada yang belajar keluar sebagaimana umumnya anak laki-laki. Mereka kini banyak belajar agama di Pesantren Al-Istiqomah Walesi dan beberapa orang melanjutkan tingakat lanjutan (SMP/SMU) di YAPIS Wamena.
  
************
  
  
  REFRENSI DAN CATATAN KAKI :

[1]. J.R. Mansoben, Dr, “Membangun Manusia Irian Jaya yang Majemuk” : Suatu Tinjauan Antropologi Budaya, (Jayapura, Universitas Cenderawasih, September 1997), h. 8, (td).

[2] . Suara Hidayatullah, Ihwal, (Irian Tapi Islam), ( Jakarta ), 09/X/Pebruari 1998, h. 8

[3] . Benny Giay, Gembalakanlah Umatku, (Jayapura, Deiyai : 1998), Cet-1, h. 78

[4] . Muslimin Yelipele, Tokoh Agama Islam Wamena (Pegawai Depag RI Kabupaten Jayawi Jaya), Wawancara Pribadi, Wamena Mei 2007

[5]. Muhammad Ali Wetipo, (Tokoh Muslim Balim), (Muhammad Ali Wetipo agaknya generasi Suku Balim yang paling awal masuk Islam). Wawancara Pribadi, Jakarta , 15 Juni 2007.

[6] . Muhammad Ilham Walelo, (Tokoh Muslim Balim), Wawancara Pribadi, Jakarta , 11 Juni 2007

[7] . Muhammad Aipon Asso, (Kepala Suku Besar), Wawancara Pribadi, Walesi 20 Agustus 2004

[8] . Organisasi ini para pengurusnya dari kalangan Pejabat yang beragama Islam, dan yang pertama mensponsori pendirian organisasi adalah dr. Letkol (Purnawirawan, AL . H. M. Mulya Tarmidzi

[9] . Muhammad Ali Asso, (Tokoh Pemuda Islam dan Pemeluk Islam Generasi pertama dari Walesi), Wawancara Pribadi, Walesi, 7 Mei 2007

[10]. Lihat Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat

2. “Missa Islam”, yang dimaksudkan oleh Merasugu Asso adalah sholat. Tapi istilah “Missa Islam”, adalah istilah dalam ibadah agama Kristen Katolik. Hal ini menunjukkan bahwa di kampungnya (Walesi), dia sering dengar dengan istilah ini dari kebiasaan orang Katolik, sehingga gerakan beribadah orang islam dia mempersamakannya dengan istilah Missa.

3. Dalam kebiasaan Adat kekerarabatan Balim bahwa pemakaian nama clan dari sebenarnya disebabkan oleh dua sebab; Pertama, jika dalam perang suku antar Konfederasi satu clan sudah mulai punah karena itu digabungkan dalam clan lain;Kedua, karena diterima dengan proses inisiasi kedalam clan lain misalnya Merasugun yang clan sebenarnya Yelipele tetapi diterima dan diinisiasi dalam clan ibunya menjadi Asso.

[13] Muhammad Ali Asso; (Generasi Pemeluk Islam Pertama), Wawancara Pribadi, 9 Mei 2007

[14]. Agaknya, usulan dan model kontruksi bangunan pendidikan yang di inginkan Merasugun, yang membuat kekaguman Dokter Mulya Tarmidzi, adalah pola pendidikan asrama yang dikembangkan oleh oleh Belanda. Tapi yang diusulkan oleh Merasugun adalah model kontruksi bangunan Missi Katolik yang sebelunmya sudah ada dan telah dibangun oleh Missionaris Belanda disekitar kota Wamena.

[15] . Aipon Asso, (Kepala Suku Besar Muslim), Wawancara Pribadi, 20 Agustus 2004

[16] Dr. H. M. Mulya Tarmidzi, (Tokoh Ulama), wawancara pribadi, Jakarta , dalam tahun 2004

 
Sumber: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Amal Ilmiah Yapis Wamena


Masjid di Air Garam, Wamena, Papua

Wajah Muslim di Air Garam, Wamena, Papua

Generasi muda muslim Jayawijaya